Pada awal abad ke-17 jumlah orang Belanda di Batavia masih sedikit sekali. Ini karena sampai pertengahan abad ke-19 mereka kurang disertai wanita Belanda dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, banyak perkimpoian campuran dan memunculkan sejumlah Indo di Batavia.
Sementara itu, orang Tionghoa yang menetap di Batavia pun semula kebanyakan orang laki-laki, karena itu mereka banyak melakukan perkimpoian dengan penduduk pribumi, terutama wanita dari Bali dan Nias. Sebagian dari mereka berpegang pada adat Tionghoa (seperti penduduk dalam kota dan 'Cina Benteng' di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora, mis: di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara.
Keturunan orang India pun tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang Arab, sampai orang Hadramaut datang dalam jumlah besar, kurang lebih tahun 1840. Banyak diantara mereka yang bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang pada adat Arab mereka.
Di dalam Kota Batavia sendiri, orang bukan Belanda yang selamanya merupakan mayoritas besar, terdiri dari orang Tionghoa, orang Mardijker dan ribuan budak dari segala macam suku. Jumlah budak itu kurang lebih setengah dari penghuni Kota Batavia.
Orang Jawa dan Banten kebanyakan tidak diperbolehkan tinggal menetap di dalam kota setelah 1656. Mereka tinggal di pondok-pondok di luar tembok Batavia. Wilayah di luar kota biasa disebut Ommelanden.
Pada tahun 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang, terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Eropa, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor, 981 orang Bali dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa.
Sepanjang abad ke-18, kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19 mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu, yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja Immanuel. Orang Tionghoa semakin bertambah dengan cepat, walaupun sekitar sepuluh ribu orang Tionghoa dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan di luar kota.
Tuesday, June 21, 2011
Profil Orang Tionghoa di Batavia
Orang Tionghoa telah menjadi bagian penting dalam sejarah Batavia. Pada masa itu, penampilan orang Tionghoa sangat berbeda dengan masa kini, lho. Yang sangat mencolok adalah rambut mereka. Pada zaman Belanda dulu, mereka memelihara rambut tocang, yakni rambut di bagian belakang dibiarkan tumbuh, sedang rambut bagian atas dahi dicukur licin sampai puncak kepala. Nah, kuncir atawa tocang ini sebenarnya amat dibenci oleh kaum muda Tionghoa, karena dianggap sebagai penghinaan besar oleh bangsa Manchu yang pernah menjajah mereka. Ketika para perantau Tionghoa datang ke Indonesia, mereka pengen banget mencukur kuncir sebagai tanda menentang kekuasaan Manchu yang mulai 1644 menduduki daratan besar Cina.
Nah, saat itu Belanda menarik keuntungan besar dengan memberlakukan \'pajak jalinan rambut panjang\' pada mereka. Mereka pun diharuskan memakai pakaian tradisionalnya, seperti di negara asal mereka. Selain itu, pihak kolonial pada masa VOC juga mengenakan pajak kuku panjang yang menandakan orang kaya yang santai, serta pajak judi dan pajak tempat pelacuran (soehian).
Namun, orang Tionghoa dikenal gigih dalam berdagang dan mencari uang. Mereka adalah pekerja keras dan perintis usaha yang handal, sehingga tak heran, banyak dari mereka yang akhirnya menjadi kaya raya dan memiliki banyak harta, tanah, rumah perjudian dan soehian.
Willard A. Hanna dalam Hikayat Jakarta menyebutkan, warga Tionghoa dengan patuh membayar pajak-pajak itu, namun orang Belanda, tulis Hanna, terheran-heran karena sifat keberanian mereka dalam berjudi, ketagihan akan arak, serta kelebihan dan perbuatan tak wajar dalam urusan seks. Tapi mereka mengagumi kelebihan etnis ini dalam mengumpulkan harta. Berjudi yang merupakan budaya Tionghoa ini, rupanya pernah dimanfaatkan Pak Ali Sadikin ketika jadi Gubernur DKI Jakarta. Sambil menegaskan hanya diperbolehkan untuk orang Cina, Bang Ali membuka berbagai lokalisasi perjudian di Ibu Kota. Dana dari hasil judi itu digunakan untuk membangun jalan, sekolah, puskesmas dan berbagai fasilitas lainnya.
Nah, saat itu Belanda menarik keuntungan besar dengan memberlakukan \'pajak jalinan rambut panjang\' pada mereka. Mereka pun diharuskan memakai pakaian tradisionalnya, seperti di negara asal mereka. Selain itu, pihak kolonial pada masa VOC juga mengenakan pajak kuku panjang yang menandakan orang kaya yang santai, serta pajak judi dan pajak tempat pelacuran (soehian).
Namun, orang Tionghoa dikenal gigih dalam berdagang dan mencari uang. Mereka adalah pekerja keras dan perintis usaha yang handal, sehingga tak heran, banyak dari mereka yang akhirnya menjadi kaya raya dan memiliki banyak harta, tanah, rumah perjudian dan soehian.
Willard A. Hanna dalam Hikayat Jakarta menyebutkan, warga Tionghoa dengan patuh membayar pajak-pajak itu, namun orang Belanda, tulis Hanna, terheran-heran karena sifat keberanian mereka dalam berjudi, ketagihan akan arak, serta kelebihan dan perbuatan tak wajar dalam urusan seks. Tapi mereka mengagumi kelebihan etnis ini dalam mengumpulkan harta. Berjudi yang merupakan budaya Tionghoa ini, rupanya pernah dimanfaatkan Pak Ali Sadikin ketika jadi Gubernur DKI Jakarta. Sambil menegaskan hanya diperbolehkan untuk orang Cina, Bang Ali membuka berbagai lokalisasi perjudian di Ibu Kota. Dana dari hasil judi itu digunakan untuk membangun jalan, sekolah, puskesmas dan berbagai fasilitas lainnya.
Sejarah Perjudian di Batavia.

Uploaded with ImageShack.us
Seperti halnya praktek prostitusi, perjudian pun telah dilakukan manusia sejak zaman dahulu kala. Di Indonesia sendiri, judi tradisional sudah menjadi bagian masyarakat melalui permainan tradisional yang mengarah pada perjudian. Ketika akhirnya VOC bercokol, untuk memperoleh penghasilan pajak yang tinggi dari pengelola rumah-rumah judi tersebut, maka pemerintah VOC memberi izin pada para Kapitan Tionghoa untuk membuka rumah judi sejak 1620. Rumah judi itu bisa berada di dalam ataupun di luar benteng Kota Batavia.
Sejak masa Souw Beng Kong, Kapitan Tionghoa pertama di Batavia, rumah judi resmi telah berdiri. Souw Beng Kong tak hanya mengurus tempat judi tapi juga pembuatan koin dan rumah timbang untuk barang-barang orang Tionghoa. Ia juga diberi hak menarik cukai sebesar 20 persen dari pajak judi yang dikenakan VOC kepada para pemilik rumah judi.
Judi kartu dan dadu, atau disebut juga po, cukup beken di kalangan penggemar judi di Batavia. Masyarakat Tionghoa pada masa itu pun juga sudah memperkenalkan judi capjiki. Permainan lotere ala Eropa atau Belanda baru masuk Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19.
Begitu marak dan digemarinya perjudian di Batavia, terutama bagi kalangan masyarakat Tionghoa, hingga ada lukisan yang dibuat pelukis Belanda A. van Pers yang menggambarkan orang Tionghoa di Batavia sedang main kartu. Mereka tengah bermain judi ceki yang kartunya berwarna kuning dengan tulisan Cina di tengahnya. Kartu ceki sedikit lebih ramping dibanding kartu domino. Berjudi dengan kartu ceki bukan hanya pernah dikenal secara luas di Indonesia, tapi juga kalangan Tionghoa di Singapura dan Malaysia.
Keindahan Kota Tua Jakarta, Batavia Lama
Quote:
![]() Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka).Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah. |
Quote:
| Sebagai permukiman penting, pusat kota, dan pusat perdagangan di Asia sejak abad ke-16, Oud Batavia merupakan rumah bagi beberapa situs dan bangunan bersejarah di Jakarta: 1. Jakarta Kota Station Spoiler for Jakarta Kota Station: Stasiun Jakarta Kota lebih dikenal sebagai Stasiun Beos, merupakan kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur). Nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Nama ini muncul pada akhir abad ke-19, karena Batavia memiliki stasiun kereta api Batavia Noord (Batavia Utara yang yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang). Batavia Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api Netherland Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan merupakan terminal untuk jalur Batavia- Buitenzorg (Jakarta - Bogor), yang pada tahun 1913 jalur Batavia - Buitenzorg ini dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staats Spoorwegen (SS). |
Quote:
| 2. Jakarta post office Spoiler for Jakarta post office: |
Quote:
| 3.Meseum Wayang Spoiler for museum wayang: Museum wayang terletak dikawasan wisata Kota Tua tidak jauh dari museum Fatahillah. Musuem ini dibangun pada tahun 1640 sebagai gereja yang bernama De Oude Hollandsche kerk (gereja lama Belanda) lalu diperbaiki pada tahun 1808 dengan nama De Nieuwe Hollandse kerk (gereja baru Belanda) lalu masih pada tahun yang sama gereja ini hancur oleh gempa bumi dan rerntuhannya inilah yang dibangun museum wayang. |
Quote:
| 4.Jembatan kota intan Spoiler for Jembatan kota intan: Jembatan Kota Intan berada dekat Hotel Omni Batavia di wilayah Kota Tua, tepatnya di jalan Kali Besar Barat. Jembatan ini berfungsi sebagai jembatan penyeberangan di atas Kali Besar. Jembatan Kota Intan ini bisa dinaik -turunkan jika ada perahu yang akan melintas di bawahnya karena dilengkapi dengan semacam pengungkit untuk menaikkan sisi bawah jembatan. Saat ini tidak bisa diungkit lagi karena faktor usia. |
Quote:
| 5.Stadhuis Batavia Spoiler for Stadhuis Batavia: Kantor Gubernur Jenderal VOC. Bangunan ini sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta. |
Quote:
| 6.Museum Fatahillah Spoiler for Museum Fatahillah: Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. |
Quote:
| 7.Wisata Sepeda Ontel Spoiler for Wisata Sepeda Ontel: ![]() disini kita bisa sewa sepeda untuk dapat berkeliling di Kota tua. |
Quote:
| 8.Gedung lainnya Spoiler for other: ![]() Spoiler for other: [center] ![]() Spoiler for other: [center] ![]() Spoiler for other: [center] ![]() Spoiler for other: [center] ![]() |


hot, kisah galau di batavia jaman voc gan!

Quote:
Tau ngga, sih, zaman VOC dulu, ternyata ada juga lho kisah percintaan remaja yang tragis! Ya, kisah itu adalah kisah tentang Sara Specx, putri seorang pejabat tinggi VOC, Jacques Specx, yang kelak menjadi Gubernur Jenderal menggantikan JP Coen tahun 1629-1632. Sara Specx adalah anak dari perkimpoian ayahnya itu dengan seorang wanita Jepang.Sara yang masih berusia 12 tahun, di Batavia tinggal dan dititipkan di rumah penguasa Batavia saat itu, Jan Pieterszoon Coen, di dalam lingkungan kastil yang juga merupakan benteng kota Batavia. Rumah penguasa nomor satu Batavia itu dijaga oleh prajurit-prajurit pilihan yang gagah dan tampan. Nah, lama-kelamaan Sara jatuh cinta pada salah satu prajurit muda dan tampan yang bernama Pieter J Cortenhoeff. Akhirnya keduanya terlibat hubungan asmara secara diam-diam.
Pada awalnya hubungan asmara keduanya berjalan lancar hingga pada suatu malam, Sara diam-diam mengizinkan sang kekasih masuk ke kamarnya yang notabene adalah rumah sang Gubernur Jenderal. Mereka pun lupa diri dimabuk cinta. Eh, ngga taunya, kejadian itu ternyata diketahui oleh JP Coen!
JP Coen pun menjadi sangat murka. Sang penguasa Batavia ini langsung memerintahkan untuk mendirikan tiang gantungan bagi keduanya. Namun untunglah pimpinan Dewan Pengadilan Batavia atau Raad van Justitie menengahi masalah tersebut dan menyatakan hal tersebut harus diputuskan di pengadilan.
Setelah proses pengadilan pada 18 Juni 1629 keduanya tetap dinyatakan bersalah melakukan perzinahan. Sang kekasih Pieter J Cortenhoeff dieksekusi mati, dipenggal kepalanya pada tanggal 19 Juni 1629 di depan umum di halaman balai kota atau Stadhuisplein. Sementara Sara Specx yang masih berumur 12 tahun itu dijatuhi hukuman cambuk berkali-kali di hadapan umum di depan gerbang balai kota Batavia atau sekarang di sekitar depan gerbang masuk Museum Sejarah Jakarta.
Setelah kejadian itu, beberapa tahun kemudian Sara menikah dengan seorang Pendeta Protestan berkebangsaan Jerman, Georg Candidus pada 20 Mei 1632. Lalu pada Mei 1633 mereka pindah ke daerah kekuasaan VOC di Formosa (Taiwan), dan di sana Sara meninggal sebagai wanita terhormat dalam usia muda pada sekitar tahun 1636.
Subscribe to:
Posts (Atom)






