Laman

Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

Monday, July 8, 2013

Hadapi Rasa Takut Balita Terhadap Badut




Quote:Apa yg terbayang pada otak kita saat berpikir tentang Badut. Make up berlebihan, pakaian warna-warni yg mencolok, hidung tomat merah, atau pakaian yg menyerupai tokoh kartun? Tapi yg pasti, kehadiranya diharapkan membawa kelucuan dan keriangan tawa anak-anak, bukan untuk menakut-nakuti. Tapi tidak demikian dengan putri sulung saya yg berusia 3 tahun, aulia. Baginya, melihat badut adalah melihat hal yang mengerikan yang membuatnya berteriak kencang, berlari menghindar dan ketakutan. Sungguh saya miris melihatnya. Seingat saya, tidak pernah rasanya memberikan cerita yg buruk tentang badut. Bahkan di buku cerita yang sering saya bacakan, ada gambar atau cerita yang terkait badut, dan ketika saya membacakannya tidak pernah keluar reaksi yang negative. Tapi jika bertemu langsung, maka hanya satu kata : lari !


Quote:Saya coba mengingat, pertemuan pertama putri saya dengan badut. Kalo tidak salah, saat usianya 1,5 tahun saya pernah mengajaknya ke sebuah taman bermain di Yogya. Waktu itu aulia saya gendong, dan tiba2 tanganya ditepuk dari belakang. Seketika kami menoleh, ternyata seorang badut berpakaian panda menyapa dan bertanya apa mau berfoto bersama. Mungkin karena ada efek terkejut, aulia kaget dan menangis ketakutan. Lalu saya menyingkir dan mencoba menghiburnya kalo itu tadi temen yang baik, Cuma mau ngajak berfoto. Akhirnya memang aulia diam.

Pertemuan selanjutnya dengan badut, ketika usianya 2.5 tahun di sebuah pesta ulang tahun teman kantor saya. Berangkat dari rumah, aulia sudah semangat akan memberikan kado yang ia bungkus sendiri. Ketika tiba di depan rumah teman, ternyata para tamu disambut oleh badut berpakaian upin ipin dan barney. Seketika dia berontak menangis dan mengajak pulang. Saya bujuk perlahan bahwa itu sama dengan yg ia liat di tv (karena memang dia sering nonton barney). Aulia mau masuk tapi berpegangan erat pada tangan saya. Sampai di depan 2 badut itu saya meminta si badut untuk melepaskan topengnya agar aulia bisa melihat bahwa di balik topeng barney itu ya… Cuma orang biasa. Ketika melihat si mas melepas topeng, seketika ketakutan aulia hilang dan berbaur dengan teman2 lainya di dalam rumah. Tapi, saat acara di mulai, ternyata dipandu oleh badut tersebut, aulia berlari kencang ke belakang rumah, saat badut beraksi lengkap dengan kostumnya. Saya ajak dia untuk pulang tapi entah kenapa aulia menolak, jadi sepanjang acara ulang tahun itu, kami berada di halaman belakang sampai acara selesai.

Pertemuan terbaru dengan badut adalah 2 minggu yg lalu, di toko buku di sebuah mall di semarang. Saat akan memasuki toko buku, lagi2 ada badut berkostum panda. Saya tidak terlalu menyadari keberadaannya, sampai aulia berteriak dan berlari kencang keluar di selasar mall. Saya reflek mengejarnya, takut dia berlari terlalu jauh dan hilang di kerumunan banyak orang. Waktu itu dia memang tidak menangis, hanya berlari terus, untung saya bisa mengejarnya, dan akhirnya kami langsung pulang.


Quote:Saya jadi berpikir serius dan khawatir rasa takut pada badut ini akan berkepanjangan, ketika saya membaca 2 topik yg sama tentang badut, di detik dan yahoo. Coulrophobia merupakan fobia atau rasa takut terhadap badut, yang kebanyakan diakibatkan trauma pada masa kecil, yang dialami tidak hanya oleh anak kecil tapi juga orang dewasa. Harus diatasi dengan serius karena bisa menimbulkan gangunguan kejiwaan di masa mendatang. Ah apa bener sampe segitunya sih, batin saya tak terima. Sayangnya di artikel tsb tidak dibahas cara mengatasinya.
Hasil browsing sana-sini saya dapatkan beberapa tips untuk mengatasi rasa takut balita pada badut


Quote:Ini solusinya
Spoilerfor Solusi:
1.Beri Pengantar, ketika akan mengunjungi suatu tempat yang sudah tahu akan ada badutnya, ada baiknya kita member tahu terlebih dahulu di rumah, bahwa anak tak perlu takut, bahwa bunda nya akan selalu bersamanya dan om badut itu adalah orang dewasa seperti bunda.
2. Lebih Mengenal, yaitu meminta badut melepaskan topeng kostumnya, agar anak melihat wajah aslinya. Tapi ini hanya bisa dilakukan jika si badut berkostum karekter, jika dia memakai make up tebal, tentu kita tidak mungkin memintanya menghapus riasanya kan?
3. Pahami dan terimalah perasaannya. Anak yang mengalami trauma, sangat tersiksa saat bertemu dengan objek yang ditakutinya. Berilah empati kepadanya dan meminta dia mengungkapkan perasaannya. “Adik takut ya? Tenang, Mama akan menemanimu. Kita lihat dari sini saja, ya. Dia hanya ingin menghibur orang-orang. Jadi tidak perlu takut.”
"Tips ini lumayan berhasil meredakan rasa takut anak saya"
4. Dekatkan. Membantu anak dengan menjauhkannya dari badut merupakan cara penanganan sementara. Karena di lain kesempatan, pasti dia akan bertemu dengan badut lagi. Jadi, kita perlu melatih anak untuk berani menghadapi kenyataan untuk bertemu badut, dengan melakukan pembiasaan. Tentu saja diperlukan waktu yang tidak pendek dan kesabaran orang tua. “Dekatkan” anak dengan melakukan pengamatan dari jauh terlebih dahulu. Tunjukkan pada anak sifat positif badut. “Lihat dik, disana ada badut yang baik. Dia sedang membagikan balon pada anak-anak. Adik mau balon nggak?”
5. Tidak memberi informasi yang sesat. Jangan membuat karakter badut menjadi negatif bagi anak dengan mengatakan, “Ayo cepat makan, kalau tidak, Mama panggilkan badut!” atau “Ayo pulang, nanti kamu diculik badut!”. Informasi seperti ini menanamkan pengertian pada anak bahwa badut adalah tokoh yang jahat.
6. Jangan melecehkannya. Anak sangat tersiksa dengan perasaannya sendiri saat bertemu badut. Jadi, jangan ditambahi lagi dengan komentar-komentar yang melecehkan seperti, “ Dasar penakut. Masa, ketemu badut saja, lari.
7. Berikan pujian. Berilah penghargaan di setiap kemajuannya, walau baru sedikit saja. Saat dia sudah berani melihat dari kejauhan, katakan, “Wah, adik hebat. Sudah berani lihat badut. Yuk, kita berikan salam dari sini, daag…dadaaag!”.
8. Karang cerita, Anda dapat mengarang cerita tentang bagaimana badut bersahabat dengan anak kecil. Atau bagaimana seorang anak yang tadinya takut badut, akhirnya tidak takut lagi karena kebaikan-kebaikan si badut.
9. Beri pelukan, Anak dapat mengatasi rasa takutnya jika melihat respon orangtuanya. Oleh sebab itu, reaksi orangtua tidak boleh berlebihan. Peluk saja anak dengan lembut dan katakan bahwa Anda mengerti akan ketakutannya. Lebih baik lagi jika sebelum mempertemukannya secara langsung, anak diperlihatkan dulu aktivitas si badut dari jauh.
10. Beri contoh, Jangan coba menyuruh anak menghilangkan rasa takutnya dengan kata-kata. Tindakan atau contoh nyata lebih baik, misalnya dengan mengajak badut bersalaman, atau cobalah bercanda dengan badut. Dengan melihat bahwa orangtuanya tidak takut, anak akan berhasil mengatasi ketakutannya sendiri.
11. Jangan memaksa, Setelah berbagai cara dilakukan, mungkin si anak belum berani bersalaman atau berinteraksi langsung dengan badut. Biarkan saja, jangan terlalu memaksa. Setidaknya ia tak lagi menjerit dan menangis ketika bertemu dengan badut


Quote:"Semoga tips2 di atas bisa membantu saya mengatasi rasa takut putri saya terhadap badut. Saya berdoa sih semoga ketakutannya masih dalam skala wajar untuk anak usia 3 tahun dan akan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia, tapi tidak ada salahnya kita beri perhatian yg lebih, dan mengatasainya sejak dini, daripada di kemudian hari menjadi masalah yang serius."

Friday, December 21, 2012

6 Penyebab Anak Suka Mem-"Bully"



Quote:Quote:KOMPAS.com - Perilaku bullying atau suka menindas orang lain, tanpa disadari kerap kali dialami anak-anak atau remaja. Sayangnya, para pelaku bullying ini acapkali bukanlah anak atau remaja yang biasa dinilai punya perilaku nakal dalam kesehariannya terutama di rumah. Tak heran jika banyak orangtua yang kaget karena anak mereka terlibat bullying sementara di rumah mereka menunjukkan perilaku yang baik.

Quote:Menurut penelitian yang dilakukan oleh Douglas Gentile dan Brad Bushman dalam Psychology of Popular Media Culture, disebutkan bahwa anak-anak yang terlihat baik juga memiliki risiko untuk menjadi seorang pengganggu dan memiliki beberapa perilaku yang agresif.
Quote:Penelitian ini dilakukan dengan memantau perkembangan dari 430 anak usia 7-11 tahun di kelas 3-5 dari lima sekolah di Minnesota. Dalam studi ini, anak-anak dan guru disurvei dua kali per enam bulan. Agresifitas fisik ini diukur dengan laporan perkembangan diri, laporan teman sebaya, dan juga laporan guru tentang kekerasan yang dilakukan anak. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan beragam faktor yang bisa mengubah pribadi anak menjadi negatif .

Quote:Dalam laporan diri, anak-anak dinilai melalui tayangan televisi yang mereka sukai, video game, dan film. Penelitian dilakukan dengan seberapa sering mereka menonton dan bermain video game yang berhubungan dengan kekerasan. Mereka berpendapat bahwa televisi dan video game memegang peranan penting bagi anak untuk mem-bully teman-temannya, karena dianggap seperti permainan.

Quote:Berdasarkan penelitian ini, Gentile dan Bushman mengungkapkan, ada enam faktor yang bisa menyebabkan anak menjadi seorang pengganggu atau melakukan bullying pada temannya. "Ketika semua faktor risiko ini dialami anak, maka risiko agresi dan perilaku bullying akan tinggi. 1-2 faktor risiko bukan masalah besar bagi anak, namun tetap butuh bantuan orang tua untuk mengatasinya," ungkap Gentile.
Quote:1. Kecenderungan permusuhan

Dalam hubungan keluarga maupun pertemanan, permusuhan seringkali tak bisa dihindari. Merasa dimusuhi akan membuat anak merasa dendam dan ingin membalasnya.


Quote:2. Kurang perhatian

Rendahnya keterlibatan dan perhatian orang tua pada anak juga bisa menyebabkan anak suka mencari perhatian dan pujian dari orang lain. Salah satunya pujian pada kekuatan dan popularitas mereka di luar rumah.

Quote:3. Gender sebagai laki-laki

Seringkali orang menilai bahwa menjadi seorang laki-laki harus kuat dan tak kalah saat berkelahi. Hal ini secara tak langsung menjadi image kuat yan menempel pada anak laki-laki bahwa mereka harus mendapatkan pengakuan bahwa mereka lebih kuat dibanding teman laki-laki lainnya. Akhirnya perilaku ini membuat mereka lebih cenderung agresif secara fisik.

Quote:4. Riwayat korban kekerasan

Biasanya, anak yang pernah mengalami kekerasan khususnya dari orang tua lebih cenderung 'balas dendam' pada temannya di luar rumah.


Quote:5. Riwayat berkelahi

Kadang berkelahi untuk membuktikan kekuatan bisa menjadikan seseorang ketagihan untuk tetap melakukannya. Bisa jadi karena mereka senang karena memperoleh pujian oleh banyak orang.


Quote:6. Ekspos kekerasan dari media

Televisi, video game, dan film banyak menyuguhkan adegan kekerasan, atau perang. Meski seharusnya, orang tua melakukan pendampingan saat menonton atau bermain video game untuk anak di bawah umur, nyatanya banyak yang belum melakukan ini. Ekspos media terhadap adegan kekerasan ini sering menginspirasi anak untuk mencobanya dalam dunia nyata. "Sebaiknya dampingi dan beri pengertian pada anak saat menonton film beradegan kekerasan atau bermain video game perkelahian. Karena pengaruh media inilah yang 80 persen bisa membuat perilaku anak menjadi negatif dan terinspirasi untuk melakukannya," sarannya.

Monday, November 19, 2012

13 Solusi Atasi Masalah Umum Mengasuh Anak

Mulai dari pilih-pilih makanan sampai mengompol, pelajari apa yang paling sering diperdebatkan orangtua dan bagaimana memecahkan konflik. Setiap orangtua mengerti indahnya perjalanan dalam membesarkan anak, tentunya jika tidak ada konflik.


Berikut ini 13 masalah umum antara orangtua dan orangtua dengan anak. Bacalah saran ahli ini bagaimana mengatasi perdebatan mengenai disiplin, urusan rumah tangga dan lain-lain.


Quote:1. Hukuman.

Anak akan selalu menguji batas kesabaran dan membuat orangtua berdebat. Hindari konflik ini dengan duduk bersama di waktu santai dan membuat enam sampai delapan aturan keluarga, yang dijelaskan dengan tenang sambil memberi pengertian kepada anak. Perkirakan juga anak akan menguji keseriusan Anda tentang peraturan ini, jawablah dengan tegas “Kamu tahu peraturannya.”


Quote:2. Emosi anak.

Baik kemarahan anak atau remaja, pesan yang anak Anda sampaikan adalah bahwa Anda menolak permintaannya. Berhadapan dengan emosi bisa membuat orangtua merasa bersalah atau simpati dan menyerah, namun ada juga yang menentang dan marah.

Yang harus dilakukan adalah menyeimbangkan simpati dan pesan yang mendidik bahwa hidup itu penuh dengan tekanan karena tidak setiap orang bisa mendapat apa pun yang mereka mau. Yakinkan pada anak Anda bahwa itu adalah masalahnya sendiri untuk dipecahkan, tapi Anda akan selalu siap jika anak butuh saran dan petunjuk


Quote:3. Anak yang haus perhatian.


Orangtua yang bekerja kadang kewalahan saat mereka pulang dan harus berhadapan dengan anak yang meminta perhatian. Orangtua yang lebih dulu tiba di rumah, berharap orangtua yang satu lagi segara tiba agar terhindar dari anak. Yang harus dilakukan dalam hal ini adalah memberi pengertian bahwa Anda punya kehidupan sendiri dan anak mampu melakukan hal yang ingin mereka lakukan sendiri.


Quote:4. Berantakan.


Ketika orangtua meminta anak untuk membereskan barang di sekitar rumah, biasanya selalu dengan cara-cara yang kurang berhasil, seperti memaksa anak atau membereskanya sendiri. Sebaliknya, ketika ada barang yang tidak dibereskan, coba “menyandera” barang tersebut dengan meletakkan barang yang tidak dibereskan ke dalam kotak atau tempat yang tidak terjangkau oleh anak.

Anak harus melakukan tugas kecil seperti membuang sampah atau membereskan meja makan jika ingin barangnya kembali. Terus kumpulkan dan sandera barang anak sampai mereka mengerti bahwa mereka mempunyai kewajiban kelak pada masyarakat.


Quote:5. Salah paham.


Banyak masalah komunikasi ketika anak mengekspresikan dan mencoba ide dan merasa berbeda dari Anda. Ketika anak mengatakan sesuatu yang membuat Anda marah, tahan emosi untuk mengungkapkan kesalahan dalam pemikiran mereka.

Tanyakan beberapa pertanyaan sebelum memberi reaksi, namun keefektifan pertanyaan Anda bergantung pada seberapa besar rasa penasaran dan hormat Anda. Anak akan tahu dari intonasi suara dan ekspresi wajah, jika Anda tidak menyudutkan anak, kemungkinan besar anak akan mendengarkan Anda.


Quote:6. Kurangnya rasa terima kasih.


Kepercayaan umum yang buruk di antara pasangan adalah bahwa mereka tidak perlu berterima kasih ketika mereka menyelesaikan sesuatu, karena itu memang tugas yang harus mereka lakukan. Di meja makan, di depan anak, ucapkan terima kasih kepada pasangan Anda. Anda akan memberi contoh yang sangat baik pada anak Anda dan sekaligus menjaga kelangsungan pernikahan Anda.


Quote:7. Kurang tidur.


Ketika anak bangun di malam hari, orangtua yang lelah berdebat tentang cara terbaik membuat anak tidur. Fokuslah untuk bekerja sama ketika malam dimulai dengan menciptakan kebiasaan malam yang yang nyaman yang perlahan akan membuat anak tertidur tanpa Anda harus berada di dalam ruangan. Dengan cara ini ketika anak terbangun di malam hari, dia akan bisa tertidur sendiri.


Quote:8. Perasaan diabaikan.
Orangtua yang direpotkan oleh keharusan membesarkan anak kadang berakhir dengan merasa saling mengabaikan. Untuk mencegahnya menjadi lebih parah, buatlah ritual harian dengan saling berpegangan selama satu menit, itu saja! Ini tidak mudah jika Anda sedang merasa terluka, tapi menurut para ahli hal tersebut bisa melepaskan hormon yang membuat Anda merasa senang, dan memperbaiki perasaan Anda berdua


Quote:9. Pilih-pilih makanan.
Membuat anak makan makanan yang sehat bisa memicu berbagai perasaan orangtua yang berbeda terhadap makanan, menjadikan masalah makanan ini ruang untuk orangtua berdebat. Aturan utama adalah buatlah waktu makan menjadi kesempatan untuk mengobrol dan berbagi pengalaman menyenangkan dengan keluarga.

Selama ada satu makanan sehat yang Anda tahu akan dimakan oleh anak, tidak perlu terburu-buru menyogok, memaksa atau memesan makanan. Membuat waktu makan menyenangkan akan membuat Anda dan pasangan bisa menikmati waktu dan menciptakan kesempatan untuk mencoba makanan baru, tanpa harus berdebat mengenai makanan.


Quote:10. Konsekuensi.
Orangtua kadang berdebat mengenai memberi hukuman pada anak yang nakal. Membuat konsekuensi adalah bentuk yang wajar dari disiplin, tapi tidak harus selalu menghukum anak dengan keras untuk menjadi efektif.

Ide dasarnya adalah untuk memastikan hukuman sesuai dengan umur dan sesuai yang Anda katakan. Dan ketika hukuman selesai pastikan tidak mengungkitnya lagi. Jangan ada dendam!


Quote:11. Teman tidur.
Beberapa keluarga berkomitmen untuk tidur pada satu tempat tidur ketika bayi perlu diawasi setiap saat atau anak kesulitan tidur sendiri. Tapi apa yang terjadi ketika orangtua menolak dan memilih tidur di sofa untuk istirahat?

Jika ini terjadi, waktunya untuk memikirkan kembali pengaturan tidur untuk bayi dan anak. Sebagian bayi tidak lagi terbangun tengah malam setelah enam bulan dan akan tertidur sepanjang malam jika ditempatkan di boks bayi di dekat Anda. Anak dan Anda akan mendapat istirahat yang cukup jika kebiasaan malam ini tegas, nyaman dan konsisten.


Quote:12. Disiplin.
Untuk mengakhiri perang disiplin, sangat perlu menghentikan perebutan kekuasaan dan mulai saling menghormati. Agar disiplin menjadi media belajar yang efektif, disiplin harus mempunyai konsekuensi yang alami dan logis.

Konsekuensi alami adalah yang terjadi tanpa campur tangan orangtua, seperti: tanpa jaket kita akan kedinginan. Jika tidak membuat pekerjaan rumah, nilai akan jelek.

Konsekuensi logis adalah yang dibuat untuk memberi pelajaran dan pengalaman. Contohnya seorang anak akan dihukum jika dia memukul anak lain.


Quote:13. Merengek dan menangis. Sebagai orangtua pendidik, ini adalah keluhan terbesar orangtua. Ini sangat menyusahkan ketika ada orangtua yang menyerah dan ada yang mencoba tegas namun dengan disiplin yang baik.

Hal tersebut membuat anak bingung apakah Anda serius dengan peraturan. Dengan menjadi tidak konsisten Anda juga mengajari anak untuk menjadi manipulatif dan licik untuk melakukan hal sesuka mereka. Cobalah berkata : “Maaf telingaku tidak bisa mendengar atau mengerti teriakan dan tangisanmu. Tenang sedikit dan coba bebicara dengan sopan dan aku akan mendengarkan.” Secara otomatis ini akan membuat Anda mengajarkan dan memberi contoh cara bicara yang sopan.

Monday, October 22, 2012

Rahasia Agar Anak Menjadi Baik: CUKUP TIDUR




Para peneliti di Universitas McGill menemukan rahasia agar anak bertingkah baik.

Sebuah pernyataan dari Douglas Mental Health University Institute, sebuah institut kelas dunia yang berafiliasi dengan Universitas McGill, menyoroti sebuah penelitian baru yang menemukan bahwa tidur 27 menit lebih lama di antara anak usia 7 sampai 11 tahun membantu mereka mengontrol emosi dan membatasi perilaku impulsif di sekolah. Penelitan ini juga menemukan bahwa pengurangan waktu tidur selama 54-menit terkait dengan pengurangan pengendalian emosi dan penignkatan perilaku impulsif.

"Penemuan baru ini mendukung pentingnya tidur bagi anak usia sekolah," kata Reut Gruber, peneliti di Douglas Mental Health University Institute dan profesor di Departemen Psikiatri di Universitas McGill. "Kita perlu menyediakan edukasi tentang tidur bagi para orang tua, pendidik, dan siswa-siswi dengan menampilkan data pengaruh kritis tidur terhadap kinerja di siang hari. Tidur harus diprioritaskan."

Para peneliti mengatakan bahwa penelitian yang menganalisis efek dari waktu tidur terhadap perilaku anak di sekolah hanya sedikit, meskipun banyak penelitian yang menunjukkan pentingnya tidur terhadap kewaspadaan dan fungsi lain. Para peneliti tersebut mengamati bahwa sekitar 64 persen dari anak usia sekolah pergi tidur setelah jam 9 malam dan 43 persen dari anak laki-laki usia 10-11 tahun tidak tidur sesuai anjuran.

Selama penelitian, Gruber dan tim risetnya menemukan bahwa pada anak usia sekolah yang sehat tidur lebih lama terkait dengan kinerja yang lebih bagus dalam tes IQ. Tidur rata-rata 10 jam tiap malam disebutkan terkait dengan prestasi yang bagus. Gruber dan rekan-rekannya berharap untuk mengedukasi dewan sekolah mengenai pengaruh tidur tidak cukup terhadap perilaku anak di sekolah.

Kajian Gruber yang berjudul “Impact of Sleep Extension and Restriction on Children’s Emotional Liability and Impulsivity" baru-baru ini dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics.


belljarnews
=============================

Jagalah anak anda dari bermain-main playstation, PC, laptop, smartphone, maupun gadget2 lain, ataupun menonton tv sampai larut malam.

Ternyata waktu tidur bisa mempengaruhi perilaku anak.

Bisa jadi tawuran sekolah yang terjadi salah satu pengaruhnya adalah karena siswa kurang tidur pada begadang sehingga kontrol emosinya menjadi kurang baik dan sering bertingkah impulsif meledak-ledak.

Friday, October 12, 2012

9 Makanan terbaik untuk Otak anak

Ingin anak Anda cemerlang dan berprestasi di sekolah? Mulai sekarang, perhatikan pola makan mereka sehari-hari. Cukupilah kebutuhan gizi dengan baik, demi mendukung aktivitas mereka yang padat.

Para ahli nutrisi menganjurkan, para orang tua sebaiknya memilih beberapa jenis makanan bergizi yang dapat membantu meningkatkan pertumbuhan otak mereka. Beberapa jenis makanan diketahui dapat mendukung perkembangan otak di usia pertumbuhan, selain juga dapat memperbaiki fungsi, daya ingat serta konsentrasi.

Menurut Bethany Thayer, seorang pakar nutrisi dari Detroit yang juga jurubicara American Dietetic Association (ADA), otak adalah salah satu organ yang "sangat kelaparan". Otak adalah organ pertama dari tubuh yang menyerap nutrisi dari makanan yang kita santap sehari-hari.

Untuk itulah, penting artinya memberikan asupan nutrisi yang tepat kepada anak-anak. Upaya ini akan sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak mereka agar maksimal.

Berikut adalah 9 jenis makanan yang direkomenfasikan para ahli untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak anak :

1. Ikan

Para ahli menyarankan untuk memilih ikan yang mengandung asam lemak yang bermanfaat seperti salmon. Ikan ini merupakan sumber terbaik asam lemak omega 3 yang penting untuk fungsi dan pertumbuhan otak anak. Faktanya, beberapa studi juga membuktikan, mereka yang gemar menyantap ikan yang mengandung omega 3 memiliki pikiran yang tajam dan mencatat hasil yang baik dalam tes kemampuan mental.

Spoiler for ikan:

2. Telur

Jenis makanan ini sangat mudah dan murah, tetapi sangat bergizi. Telur merupakan sumber protein. Kuning telur yang berada di dalamnya mengandung kolin yang berkhasiat membantu perkembangan otak. Biasakan secara rutin memberikan sarapan atau makan malam yang sehat dengan menu yang terbuat dari telur.
Spoiler for telur:

3. Selai kacang

Kacang adalah makanan yang kaya akan vitamin E dan juga antioksidan yang dapat melindungi membran sel - sel otak terhadap radikal bebas terutama kacang macadamia dan almond. Untuk hasil terbaik, pilihlah selai kacang yang rendah gula dan natrium.
Spoiler for selai kacang:

4. Sayuran bewarna

Tomat, wortel, bayam atau labu adalah makanan yang kaya antioksidan. Makanan ini dipercaya dapat membantu mempertahankan kekuatan dan kesehatan membran sel. Semakin segar dan cerah warna sayuran, makin tinggi kandungan antioksidannya. Beberapa sayuran juga memiliki manfaat mencegah kanker.
Spoiler for sayur:

5. Oat/Oatmeal

Oat ini adalah salah satu bahan yang terkandung dalam sereal yang digemari anak-anak. Makanan ini mengandung karbohidrat yang secara bertahap akan diserap oleh otak anak selama proses belajar di sekolah. Oat juga merupakan sumber yang baik untuk vitamin E, B, potasium dan zinc yang membantu tubuh dan otak untuk bekerja secara optimal.
Spoiler for oatmeal:

6. Buah beri

Buah seperti stroberi, blueberi dan blackberi kaya akan zat antioksidan seperti vitamin C . Sejumlah studi menunjukan bahwa buah beri dapat memperbaiki daya ingat.
Spoiler for buah beri:

7. Kacang hijau

Makanan ini adalah salah satu yang sangat direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh anak-anak mengingat nutrisinya yang sangat lengkap. Selain tinggi kadar protein dan karbohidrat kompleks, kacang hijau juga memiliki kandungan vitamin C, asam folat, zat besi, zinc, potassium, magnesium, tembaga, mangan, fosfor dan thiamin yang semuanya penting bagi tubun dan perkembangan otak.
Spoiler for kacang hijau:

8. Susu dan yogurt

Produk susu termasuk di dalamnya yogurt adalah makanan yang kaya protein, vitamin D dan vitamin B yang berperan penting dalam pertumbuhan jaringan otak, neurotransmitter dan enzim. Yogurt merupakan makanan yang semi padat sehingga lebih mudah dicerna dalam proses metabolisme tubuh.

Penelitian terbaru juga menunjukkan, anak-anak dan remaja memerlukan vitamin D 10 kali lebih banyak dari yang direkomendasikan. Vitamin D berguna untuk memelihara siklus hidup sel serta fungsi saraf dan otot.
Spoiler for susu dan yogurt:

9. Daging sapi bebas lemak

Makanan ini adalah sumber zat besi yang dapat membantu membuat anak tetap berenergi dan berkonsentrasi di sekolah. Daging sapi tanpa lemak merupakan sumber terbaik zat besi karena mudah diserap oleh tubuh. Faktanya, satu ons daging sapi setiap hari membantu tubuh menyerap zat ebsi dari sumber makanan lainnya. Daging sapi juga mengandung zinc yang membantu memelihara daya ingat.


Spoiler for daging sapi:

Monday, September 17, 2012

Cinta Menurut anak 4-8 Tahun

Sekelompok profesional mengajukan pertanyaan ini kepada sekelompok anak-anak yang berusia 4-8 tahun, "Apa artinya cinta?" Jawaban yang mereka miliki lebih luas dan lebih dalam daripada yang dapat dibayangkan. Perhatikanlah, bagaimana menurutmu: 1. "Ketika Nenek saya mendapat penyakit arthritis, dia tidak bisa membungkuk dan mengecat kuku kakinya lagi. Jadi kakek saya melakukan itu semua untuknya bahkan walaupun tangannya terkena arthritis, juga. Itulah Cinta"
Rebecca - 8 tahun

2.“Ketika seseorang mencintai kamu, cara mereka menyebut namamu akan berbeda. Kamu akan tahu bahwa namamu aman di mulut mereka.”
Billy – 4 tahun

3."Cinta adalah ketika kamu pergi keluar untuk makan dan memberikan seseorang sebagian besar French Fries kamu tanpa mau meminta mereka untuk memberikan makanannya juga."
Chrissy – 6 tahun

4."Cinta adalah apa yang membuatmu tersenyum walaupun kamu sedang lelah."
Terri – 4 tahun

5."Cinta adalah ketika ibu saya membuatkan kopi untuk papa dan dia menyicipnya sebelum memberikannya kepada papa, untuk memastikan bahwa rasanya OK."
Danny – 7 tahun

6."Jika kamu ingin belajar mencintai yang lebih agi, kamu harus memulainya dengan seorang teman yang kamu benci."
Nikka – 6 tahun

7."Cinta adalah ketika kamu memberitahu seorang pria bahwa kamu menyukai kemejanya, lalu dia memakainya setiap hari."
Noelle – 7 tahun

8."Cinta itu seperti wanita tua dan seorang pria tua yang masih tetap berteman bahkan setelah mereka saling mengenal dengan baik."
Tommy – 6 tahun

9."Selama resital piano, saya berada di atas panggung dan takut. *Saya melihat semua orang menonton saya dan melihat ayah melambaikan tangan dan tersenyum. Dia adalah satu-satunya melakukan itu. *Saya tidak takut lagi."
Cindy – 8 tahun

10."Ibu saya mencintai saya lebih dari siapa pun. Anda tidak melihat orang lain lagi yang akan mencium saya saat terlelap di malam hari"
Clare – 6 tahun

Pola Tidur & Masalah yang Dihadapi Pada Bayi 0-6 Bulan

Mengapa "Tidur" Merupakan Masalah yang Begitu Penting


Quote:
Anak susah tidur, kurang tidur, tidur ‘gak bener’, dan segala kecemasan mengenai hal tersebut telah lama menjadi masalah bagi orang tua. Bukan hanya mengenai anak yang sudah bersekolah, namun juga pada bayi yang baru lahir dan di usia dini kehidupannya. Tidur dengan ‘enak’ dan sehat sepertinya mudah saja untuk bayi baru lahir. Mereka bisa langsung tidur dan tetap tidur. Namun, dalam beberapa minggu dan bulan pertama kehidupannya, pola tidur ini akan berubah seiring dengan bertambah matangnya perkembangan otak mereka. Perubahan ini membawa ‘kebingungan’ membedakan siang dan malam, kadang bayi malah tidur di siang hari dan bermain di alam hari. Hal ini tentu sangat mengganggu sebagian besar orang tua. Tapi tidak perlu khawatir karena setelah beberapa minggu, orang tua dapat membantu ‘membentuk’ pola tidur yang baik menjadi kebiasaan tidur yang baik bagi buah hatinya.

Tidur merupakan sumber kekuatan yang menjadikan pikiran kita jernih, waspada dan rileks. Setiap proses tidur, baik tidur malam atau tidur siang, terjadi “recharge” dari fungsi otak. Tidur dengan kualitas baik akan meningkatkan fungsi otak karena dengan tidur yang baik akan meningkatkan rentang atensi, menimbulkan rasa rileks dan sekaligus menjaga situasi mental untuk tetap waspada.

Proses tidur secara umum dibagi atas 2 fase yaitu fase Rapid Eye Movement (REM) dan fase non REM. Pada fase REM terjadi peningkatan aliran darah ke otak sehingga terjadi fungsi otak menjadi lebih baik, sel-sel otak tumbuh lebih cepat, dan hal ini akan memberi pengaruh pada restorasi fungsi emosi dan kognisi. Sedangkan pada fase non REM terjadi peningkatan pelepasan hormone pertumbuhan sehingga tubuh mendapat kesempatan untuk tumbuh, memperbaiki sel-sel tubuh, membangun otot dan jaringan pendukung serta menguatkan tulang sehingga sangat berpengaruh pada restorasi fisik.
SLEEP MILESTONE

Quote:
Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir tidur sekitar 16-18 jam per hari. Karena bayi baru lahir belum mempunyai ritme sikardian yang matur (ritme sikardian adalah „jam tubuh“ yang mengatur berapa banyak seorang individu bisa terjaga, mengatur kapan seorang individu jadi merasa mengantuk pada waktu-waktu tertentu dalam satu hari, dan perlu di re-setting setiap harinya sehingga jadwal internal ini akan sesuai dengan agenda kehidupan selama 24 jam) , maka pola tidur bayi baru lahir sangatlah berbeda dengan orang dewasa. Bayi baru lahir tidur lebih ‚ringan’ dibandingkan dewasa, mempunyai siklus tidur yang lebih singkat, dan mengalami beberapa periode transisi diantara beberapa fase tidur.


Dibawah ini terdapat beberapa hal penting yang perlu diketahui oleh orang tua tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan tidur pada bayi baru lahir:
  1. Bayi baru lahir tidur sebentar-sebentar tapi terbagi rata di sepanjang hari. Tidak seperti orang dewasa yang tidur terutama di malam hari, bayi baru lahir tidur dalam 6 sampai 7 periode tidur yang terbagi rata sepanjang hari.
  2. Bayi baru lahir tidur lebih lama pada malam hari dibandingkan siang hari. Hal ini mungkin disebabkan karena hormon ibu yang dilepaskan saat kehamilan, atau karena program tidur-terjaga sang ibu saat hamil secara tidak langsung memprogram bayi baru lahir untuk mengikuti pola yang sama.
  3. Bayi baru lahir membutuhkan tidur jauh lebih banyak dibandingkan dewasa karena mereka tumbuh dalam kecepatan tinggi. Ibu tentu tahu bahwa berat bayi menjadi 2 kali lipat saat berumur 6 bulan, dan menjadi 3 kali lipat di ulang tahun pertamanya.
  4. Bayi baru lahir menghabiskan lebih dari separuh waktunya dalam fase tidur aktif, yaitu sekitar 8-9 jam per hari. Hal ini karena terjadi banyak maturasi sel-sel otak segera setelah lahir. Para peneliti telah membuktikan bahwa tahap tidur aktif ini memegang peranan penting dalam tahap perkembangan otak, terutama dalam mengolah semua pengalaman belajar yang terjadi selama sehari penuh.
  5. Bayi baru lahir banyak menghabiskan waktunya untuk tidur, tapi mereka seringkali hanya „tidur ringan“, sehingga mereka mudah dan sering terjaga.
  6. Bayi baru lahir mempunyai siklus tidur sekitar 50-80 menit. Siklus ini jauh lebih singkat dibandingkan dengan siklus tidur pada dewasa, dan bayi baru lahir akan tidur melalui siklus ini lebih sering dibandingkan dewasa. Bayi juga mengalami fase terjaga saat mereka transisi dari satu fase ke fase tidur lainnya.
  7. Kebanyakan bayi baru lahir „siap“ untuk kembali tidur setelah 2 jam terjaga. Beberapa bayi baru lahir tidur siang sekitar 30-45 menit, sedangkan bayi lain mungkin tidur lebih panjang.
  8. Awalnya, siklus tidur bayi baru lahir sangat mengikuti jadwal menyusunya. Bayi baru lahir tidur hampir disepanjang waktunya, bangun hanya jika mereka merasa lapar, lalu menyusui dan kemudian segera kembali tidur setelah menyusu dan sedikit ‚bermain’ dengan anda.
  9. Setelah itu pola tidur nya berangsur berubah dengan makin banyaknya kalori yang dikonsumsi saat menyusui dan bayi mulai lebih banyak terjaga di siang hari. Tidur siang mulai menjadi teratur dan tidur di malam hari mulai berpola.
  10. Pola tidur bayi yang menyusui ASI dengan yang menyusu formula mungkin berbeda karena ASI memang lebih mudah diserap sehingga bayi yang menyusu ASI akan lebih sering menyusu yang berarti lebih sering terbangun di malam hari.
  11. Para peneliti mengungkapkan bahwa bayi yang mendapatkan ASI mengalami fase REM lebih lama dibandingkan bayi yang mendapatkan susu formula. Hal ini tentu saja baik bagi restorasi emosi dan kognitif sang bayi.
  12. Pola tidur bayi baru lahir sangat berbeda dari pola tidur dewasa. Ada dua pola tidur yaitu :

Quote:
a. Tidur Aktif

Pada bayi baru lahir, fase tidur REM seperti pada orang dewasa, yaitu terjadi relaksasi dari otot-otot, tidaklah sepenuhnya terjadi. Bahkan orang tua seringkali menganggap pada fase ini bayi tidur tidak tenang, bergerak-gerak, dan menunjukkan pola bernapas yang tidak seperti biasa. Oleh karena itu fase REM ini disebut juga fase tidur aktif.

b. Tidur Tenang

Pada bayi baru lahir, fase non REM ini terlihat jauh lebih tenang dan nyenyak dibandingkan pada orang dewasa.

Quote:
Setelah 2 Minggu Sampai 6 Minggu

Sampai 1 bulan, periode tidur malamnya akan lebih panjang dibandingkan periode tidur siangnya. Sekitar usia 4 – 6 minggu, pola tidur bayi menjadi sedikit lebih teratur menjadi beberapa kali tidur panjang, yaitu sekitar 3 sampai 4 jam. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah ‚awareness’ bayi terhadap siang-malam, siklus menyusui, beberapa proses biologis-hormonal. Namun jangan terlalu berharap anda sudah akan mendapatkan pola tidur yang tetap di usia ini, namun mulailah untuk memperkenalkan perbedaan siang dan malam padanya. Kebanyakan bayi menjadi sangat rewel, sering nangis, dan sering terjaga adalah di usia 6 minggu Setelah bayi melalui usia 6 minggu, kemungkinan besar bayi mulai bisa tidur sampai 2 bahkan 3 jam. Bahkan di sore hari bayi dapat tidur nyenyak sampai 3-5 jam.

Saat bayi berusia 1 atau 2 minggu, bayi mulai terjaga lebih lama, dan memperlihatkan prilaku yang „gassy“ dan „fussy“. Hal ini berlangsung sampai sekitar usia 6 minggu, dan setelah itu mereka jadi „tenang“ lagi. Perilaku yang irritable, rewel dan sering terjaga ini sering disalah artikan sebagai „ibu yang stress“ atau ketidakcukupan suplai asi, atau bahkan dianggap sebagai akibat ASI yang buruk. Hal ini tentu saja tidak benar. Fase ini memang normal adanya sejalan dengan perkembangan kematangan otaknya. Bersikaplah tenang. Fase ini akan berlalu dan jangan menyalahkan diri sendiri.
Quote:
Bayi Usia 6 Minggu - 6 Bulan

Setelah bayi melalui usia 6 minggu, kemungkinan besar bayi mulai bisa tidur sampai 2 bahkan 3 jam. Bahkan di sore hari bayi dapat tidur nyenyak sampai 3-5 jam. Bayi sampai usia 3 bulan, kebanyakan bayi terjaga di siang hari dan pada senja hari. Kebiasaan tidur ini menjadi dapat diprediksi. Mereka cederung tidur siang 2 atau 3 kali lebih lama. Waktu tidur malam mulai bergeser jadi sedikit „lebih pagi“. Sampai usia 3 atau 4 bulan, bayi anda sudah mulai mengantuk sekitar jam 7.30 malam atau jam 8.30 malam. Pada usia ini, ritme suhunya pun semakin teratur sehingga membantu mereka untuk tidur lebih baik dan teratur. Di usia ini, ibu masih harus ‚mengikuti’ kebutuhan bayi untuk bisa tidur dengan baik. Susui mereka saat lapar, ganti popoknya saat basah dan tidurkan mereka saat mereka membutuhkannya. Jangan terlalu berharap sudah ada jadwal yang pasti dan jangan terlalu memaksakan kehendak ibu pada mereka. Setelah bayi melewati usia 6 bulan maka bayi akan mulai menunjukkan pola tidur yang teratur dan dapat diprediksi.
Quote:

Tidur merupakan hasil interaksi yang kompleks antara berbagai peristiwa biologis-kimia-hormonal dan pola tidur sangat berhubungan proses pematangan atau maturasi fungsi otak. Oleh karena itu, tidur sangat penting bagi perkembangan fisik dan mental anak.
Dengan memahami dasar ilmiah terjadinya proses tidur pada bayi anda – mengapa pola tidur bayi begitu berbeda dengan pola tidur dewasa – dapat membantu orang tua menemukan pola asuh yang tepat dan mengurangi rasa ‘frustrasi’ orang tua dalam mengasuh bayi mereka.

Tuesday, September 4, 2012

Matematika Bukan Satu-satunya Parameter Kecerdasan

Kecerdasan anak tak bisa disamaratakan. Pada dasarnya, anak-anak memiliki kecerdasan yang unik sebagai cerminan dari minat dan bakatnya.

Pemerhati pendidikan anak Seto Mulyadi mengatakan, seringkali orangtua mengukur kecerdasan anak melalui mata pelajaran tertentu, misalnya anak yang kuat di mata pelajaran matematika dianggap cerdas, dan sebaliknya, stigma kurang cerdas kerap disematkan pada anak-anak yang rendah nilai matematikanya.

"Seolah-olah cerdas matematika di atas segalanya, padahal anak-anak memiliki kecerdasan di sisi lain. Sebagai musisi, pelukis, orator, atau apapun yang menjadi minat dan bakatnya," kata pria yang akrab disapa Kak Seto dalam sebuah seminar bertajuk "Menyikapi Kekerasan Pada Anak Usia Dini" yang digelar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), di Ciputat, Jakarta Selatan, Sabtu (1/9/2012).

Cara belajar setiap anak, kata dia, juga berbeda-beda. Hal itu dipengaruhi oleh kemampuan setiap anak menyerap materi ajar yang disampaikan. Beberapa anak bisa belajar dengan "anteng", sedangkan lainnya bukan tak mungkin memerlukan suasana yang berbeda.

"Ada juga yang karena bergerak anak itu menjadi cerdas. Itulah kenapa banyak lahir sekolah alam," ujarnya.

Kak Seto menegaskan, memaksa anak untuk menguasai satu mata pelajaran atau bidang tertentu merupakan bentuk lain dalam kekerasan kepada anak. Sayangnya, masih banyak guru atau orangtua yang tidak menyadari hal tersebut.

"Memaksa anak yang cerdas bernyanyi untuk cerdas Matematika adalah kekerasan yang tidak kita sadari. Semua anak pada dasarnya cerdas. Menjadi sayang saat tak dihargai dan tak akan bisa cemerlang," tandasnya.

Tuesday, August 7, 2012

7 Manfaat Isi Liburan Anak Ke Panti Asuhan


Ilustrasi


Liburan sekolah anak tidak harus selalu dihabiskan dengan memanjakan anak berlibur ke tempat-tempat yang menghabiskan banyak uang , apalagi bepergian ke luar negeri . Mungkin bila dilakukan sesekali tidak mengapa tapi bila sering dilakukan maka akan mengajarkan anak secara tidak langsung gaya hidup yang hedonisme.
Banyak cara untuk mengisi liburan anak, salah satunya adalah berkunjung ke panti asuhan : . Mengunjungi panti asuhan bersama anak memilki beberapa manfaat :


Quote:1. Berbagi kesenangan dengan sesama

2. menanamkan kepada anak-anak mengenai pentingnya berbagi dengan sesama sehingga dapat menjadikan mereka manusia yang lebih baik.

3. Mengajarkan anak bahwa ia harus bersyukur dengan keadaannya karena masih banya anak yang tidak seberuntung dia.

4. Membagikan barang-barang yang sudah tidak terpakai namun masih layak digunakan ,hidup berbagi dengan sesama.

5. Mengajarkan Anak untuk mengasihi sesama sekaligus peduli akan lingkungan sekitarnya.

6. Mengajarkan anak bergaul dengan anak-anak sebaya ataupun yang lebih kecil.

7. Mengajarkan anak hidup dengan sederhana dengan tidak selalu berlibur ke tempat-tempat wisata saja.

Masih banyak manfaat lainnya yang dapat dirasakan oleh masing-masing orang. Bagaimana dengan Anda?

Monday, April 9, 2012

Stop Jadi Orangtua "HELIKOPTER"

Pengasuhan "helikopter" atau orangtua "helikopter" merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan sikap orangtua yang selalu mengatur anak sampai ke hal terkecil sekalipun, bersikap terlalu protektif sehingga selalu membayangi anak di mana dan kapan saja.

Pengasuhan ala helikopter seperti ini justru tidak menumbuhkan kemandirian anak. Orangtua "helikopter" yang bersikap paranoid, sebenarnya adalah mereka yang tidak mampu mengatasi rasa khawatirnya terhadap anak.

Anda lah yang selalu menghubungi pengajar preschool si kecil untuk mengeluhkan berbagai hal. Termasuk protes ketika ada anak lain yang menyerobot antrian dan membuat anak Anda tergeser ke belakang. Anda lah yang tak merasa yakin si kecil bisa membersihkan dirinya sendiri di toilet, dan Anda membersihkannya kembali untuk membuat Anda merasa lebih tenang. Hal-hal seperti inilah yang kerap dilakukan orangtua helikopter. Kalau Anda merasa memiliki kebiasaan ini, sebaiknya hentikan mulai sekarang.


Pahami pengasuhan helikopter dan tinggalkan.

Cobalah ingat kembali ke masa kecil Anda. Bisa jadi orangtua Anda tidak terlalu protektif seperti Anda. Banyak faktor yang membuat orangtua masa kini cenderung lebih khawatir, cemburu, protektif terhadap anaknya. Seperti faktor teknologi, ekonomi, dan sosial. Anda harus menghentikan pengasuhan seperti ini. Carilah informasi yang tepat untuk mengasuh anak. Membludaknya informasi melalui dunia maya dan berbagai media lainnya, dapat membantu Anda.

"Anda bisa mencari informasi di internet untuk menemukan hal-hal yang menakutkan yang Anda khawatirkan terjadi pada anak. Anda juga bisa menggali berbagai macam penyakit yang mungkin bisa dialami anak. Dengan memiliki informasi yang tepat, Anda tidak memberikan ruang pada rasa takut dan khawatir," jelas Christie Barnes, penulis The Paranoid Parents Guide: Worry Less, Parent Better, and Raise a Resilient Child.

Margaret Nelson, profesor sosiologi Middlebury College, Vermont, dan penulis buku Parenting Out of Control: Anxious Parents in Uncertain Times mengatakan sikap orangtua yang terlalu protektif justru meningkatkan kecemasan pada anak dan membuatnya depresi.


"Meski Anda telah menyiapkan finansial dan berbagai fasilitas untuk anak, Anda tetap merasa khawatir anak tidak menduplikasi kesuksesan yang Anda miliki saat ini. Tanyakan kepada diri Anda sendiri, apa yang sebaiknya Anda siapkan untuk anak dan apa yang sebenarnya dibutuhkan anak. Temukan jawabannya, karena jika tidak orangtua akan terus menerus menyediakan berbagai hal termasuk bantuan yang berlebihan untuk anak," jelas Nelson.

Mundur perlahan.
Waktunya untuk mundur perlahan dari sikap Anda yang terlalu mengawasi anak termasuk terlalu protektif. Analoginya, jika Anda adalah pilot helikopter, mulailah untuk menyerahkan izin terbang, dan tinggalkan helikopter Anda meski Anda merasa nyaman dengannya.

Studi terkini di North Carolina State University, menunjukkan anak-anak yang diasuh dengan sikap protektif orangtua yang berlebihan cenderung takut melakukan permainan yang sifatnya spontan dan berhubungan dengan fisik. Para peneliti memelajari hal ini dari orangtua dan anak di 20 taman bermain berbeda selama dua bulan.

Penelitian juga dilakukan para psikolog dari University of Washington, melibatkan lebih dari 200 anak dan ibunya, berlangsung tiga tahun. Temuannya, ketika anak sudah memiliki kontrol diri yang baik, namun diasuh oleh heli-mom dengan terlalu banyak arahan dan tidak menumbuhkan kemandirian, justru anak-anak ini berisiko mengalami kecemasan dan depresi. Anak-anak ini berusia sembilan. Namun frustasi pada anak dapat terjadi di usia berapa pun dengan sikap orangtua yang terlalu mengarahkan dan protektif berlebihan.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan orangtua?

Nelson menyarankan sebaiknya orangtua terus mencari tahu cara terbaik untuk melepaskan dirinya dari sikap terlalu protektif terhadap anak. Meskipun, sebuah studi menunjukkan adanya keterkaitan antara masalah personal orangtua bahkan masalah pernikahan, dengan sikap protektifnya terhadap anak. "Fokuslah mencari informasi untuk menemukan cara terbaik melepaskan pengasuhan helikopter, bukan pada masalah personal," jelasnya.

Monday, March 12, 2012

10 Etika Makan Anak




10 Etika Makan

Quote:
Jangan sampai terlambat mengenalkan dan mengajarkan etika makan kepada balita. Anda tentu ingin kelak anak tumbuh menjadi pribadi yang santun dan diterima oleh lingkungan sosial. Inilah TOP TEN etika makan :

Quote:
1. Cuci tangan sebelum makan dan sesudah makan. Meskipun menggunakan peralatan makan, tangan harus tetap bersih.
Quote:
2. Makan dalam posisi duduk –tidak sambil jalan-jalan atau berlarian. Hindari pula mebiarkan anak bermain saat makan, bermain dengan makanannya atau menyambi makan dengan aktivitas lain seperti menonton televisi. Anak tidak dapat konsentrasi terhadap makanannya, alhasil ia cenderung tidak menghabiskan makanan. Duduk dengan posisi tegak lurus, bukan membungkuk atau kaki selonjoran.

Saat duduk di kursi makannya, pastikan kursi si kecil tidak terlalu rendah dari meja makan, sehingga tidak mengganggu aktivitas makan. Bila perlu gunakan high chair. Posisi lengan boleh ditumpu di atas meja, namun jangan biarkan siku ikut "duduk" di meja makan.
Quote:
3. Berdoa sebelum dan sesudah makan. Anak perlu memahami bahwa makanan yang ada di depannya adalah rejeki dari Tuhan. Maka ia sepatutnya menghabiskan makanan yang ia ambil.
Quote:
4. Tepat dan benar menggunakan peralatan makan. Sendok dan garpu digunakan sebagaimana fungsinya. Begitu juga bila memakai sumpit dan pisau –sediakan yang khusus untuk anak-anak dan ajarkan penggunaannya dengan benar.

Gunakan serbet bila ingin membersihkan mulut. Serbet hanya diperlakukan untuk mengelap mulut, bukan hidung atau tangan.
Quote:
5. Mulailah makan bila semua masakan sudah terhidang di meja makan. Kenalkan juga aturan bahwa orang yang lebih tua dipersilahkan terlebih dahulu untuk mengambil makanan.
Quote:
6. Makan dengan mulut tertutup dan tidak mengisi penuh mulutnya. Ia bisa tersedak atau malah tidak berselera makan. Makan dengan perlahan, tidak perlu terburu-buru.

Makan terburu-buru bisa membuat anak tersedak, selain terlihat tidak sopan karena seperti anak yang sangat kelaparan. Perbolehkan ia menyuap usai makanan yang ada di dalam mulutnya habis.
Quote:
7. Ucapkan kata “terima kasih” setiap si kecil diberi atau diambilkan makanan oleh orang lain, kata “tolong” saat ia meminta diambilkan sesuatu, kata “maaf” bila ia tidak sengaja menjatuhkan atau menumpahkan makanan.

Alangkah lebih baik jika si kecil mengucapkan “terima kasih” kepada orang yang sudah memasak makanan untuknya.
Quote:
8. Hindari berkomentar negatif tentang makanan yang sudah dihidangkan, seperti, “Makanannya tidak enak. Aku tidak suka!” Lebih baik bila anak diajarkan untuk bilang, “Apakah ada makanan yang lain, bunda? Aku tidak terlalu suka.“
Quote:
9. Ambil makanan sesuai dengan porsinya. Katakan padanya bahwa ia boleh tambah makanan jika ia merasa kurang. Ajarkan juga bertanggung jawab terhadap makanan yang sudah diambilnya. Jika ingin mengambil makanan, hindari bila tangan harus melewati piring orang lain, apalagi sampai tubuh si kecil ada di atas piring orang tersebut. Ajarkan ia untuk meminta tolong diambilkan oleh orang lain saja.
Quote:
10. Tutup mulut dan katakan MAAF bila bersendawa. Hindari melarang si kecil untuk bersendawa karena ia bisa muntah. Makan dengan rapi. Hati-hati dan lakukan secara perlahan ketika mengambil atau mengaduk makanan. Jangan sampai makanan tercecer di atas meja.
Makan dengan tangan. Anggapan bahwa makan dengan tangan adalah kurang sopan tidak sepenuhnya benar. Ada manfaat yang bisa diperoleh anak, yaitu melatih kemampuan motorik halusnya dan belajar mengenal tekstur makanan.

Lagipula, tidak semua makanan harus di makan dengan sendok, garpu atau sumpit –misalnya makan roti, hamburger, kentang goreng atau ayam goreng. Dan lagi, dalam budaya Indonesia, makan dengan tangan bukanlah hal tabu –bahkan merupakan hal baik dan kebiasaan yang dipujikan. Dari segi etika makan, selama posisi tubuh saat makan benar, perilaku makan sopan dan makan tidak berantakan, sah-sah saja.

Friday, March 9, 2012

Bantu Si Kecil Mengeksplorasi Imajinasi

Jangan terpaku pada benar dan salah, biarkan anak mengeksplorasi imajinasinya, tentu dengan bimbingan Anda.


Ingin punya anak kreatif yang siap menjawab berbagai tantangan di masa depan? Biarkan anak bermain dengan imajinasinya. Alih-alih membatasi imajinasi si kecil, akan lebih baik jika Anda menyikapi perilaku anak dengan cara kreatif untuk mendukungnya mengembangkan kreativitas.


Peran orangtua adalah mendampingi anak dalam segala aktivitasnya, mengarahkan agar imajinasi anak berkembang lebih kreatif, bukan dengan melarang apalagi membatasi anak-anak berimajinasi apalagi ketika mereka sedang bermain.

Psikolog anak, Astrid Wulansari Emeline mengatakan anak belajar dari permainan. Termasuk ketika anak sedang berimajinasi dengan berbagai permainan yang dilakukannya. Imajinasi inilah yang membantunya mengembangkan banyak ide. Ide yang lahir kemudian adalah bekal bagi anak dalam berkreativitas tanpa batas.

Quote:
Membutuhkan peran serta aktif dari orangtua. Menemani dan menjelaskan tentang apa yang akan dia pelajari .
Kalo masalah jenis permainan yang ane lakuin, sejak umur 1 tahun anak saya perkenalkan Buku Ensiklopedia Bergambar. Berisi gambar-gambar hewan, tumbuhan, kendaraan, alam, dan sebagainya.
Selain itu juga Kartu Pintar (Kartu bergambar).
Memang sih awalnya tuh anak cuman seneng liat gambarnya warna-warni. Tapi, alangkah senengnya saat di jalan/ dimana saja dia melihat binatang atau kendaraan (yang sama dengan di buku), dia langsung nunjuk dan kasih tau itu apa.
Membebaskan anak berimajinasi juga berlaku saat si kecil sedang asyik bermain peran. "Jangan lantas melarang anak bermain peran sebagai pekerja rumah tangga karena menganggapnya tak baik. Justru, melalui peran ini, dengan imajinasinya, anak sedang belajar bagaimana melayani dan berkomunikasi dengan orang lain. Atau ketika anak main mobil-mobilan, lalu ia menjadikan mobilan sebagai telepon, jangan lantas menyalahkan atau melarang anak karena sebenarnya ia sedang mengembangkan imajinasinya. Jangan menganggap perilaku anak seperti itu sebagai sesuatu yang aneh. Orangtua banyak yang tidak menyadari apa yang dilakukan anak adalah caranya dalam mengembangkan imajinasi," jelas Astrid kepada sejumlah media seusai peluncuran establisment Cosmos Secret Agent di KidZania, mal Pasific Place, Jakarta, Rabu (29/2/2012).

Alih-alih menganggap aneh perilaku anak saat ia bermain dengan imajinasinya, Anda dapat membaur bersamanya. Masuklah ke dunia imajinasi anak dengan variasi peran baru yang Anda munculkan dan kenalkan kepada si kecil. Anda dan si kecil pun dapat hanyut dalam permainan peran yang membantu anak mengeksplorasi imajinasinya dan memberikan pengalaman juga pembelajaran baru baginya.

"Untuk memiliki anak kreatif, orangtua juga harus kreatif. Orangtua harus bisa menerima bahwa anak juga punya cara dalam melihat sesuatu termasuk saat menyelesaikan masalah yang dihadapinya," jelas Astrid.

Berawal dari imajinasi dalam sebuah permainan, si kecil melatih dirinya menjadi pribadi yang kreatif. Ketika anak kreatif, mudah saja baginya dalam memunculkan ide-ide segar. Kalau kebiasaan seperti ini terlatih sejak kecil, saat dewasa nanti anak Anda tumbuh menjadi pribadi kreatif yang lebih berani dan siap menjawab berbagai tantangan.

Tuesday, March 6, 2012

melatih public speaking sejak dini



melatih publik speaking sejak dini


Melatih anak untuk pandai berbicara sangat penting. Selain untuk mencegah terlambatnya kemampuan anak dalam bicara, tentu saja akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua bila memiliki anak yang terlihat cerdas saat berbicara. Semakin cepat anak bisa berbicara, maka akan semakin cepat pula perkembangan otak anak. Karena biasanya anak yang sudah mulai banyak bicara, akan banyak bertanya. Dan pada saat kita banyak menjawab pulalah maka perkembangan otak anak akan terstimulasi dan anak pun menjadi kaya akan banyak pengetahuan baru. Bagaimana agar si kecil pandai dalam berbicara?

1. Sering “Berbasa-basi” pada anak
Bagi kita, mungkin berbasa-basi adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Namun bagi seorang anak, hal ini sangatlah penting. Mengapa? Karena beberapa topic pembicaraan yang bagi kita tidak penting, bagi seorang anak tentu akan menjadi sangat penting. Karena kadang dari hal-hal yang menurut kita nggak penting bisa menjadi hal yang luar biasa bagi seorang anak. Jadi di sini kita harus pandai juga dalam memahami kebutuhan seorang anak. Misalnya pada saat si kecil baru saja terbangung dari tidurnya di pagi hari, mungkin kita bisa mengatakan,”Selamat pagi… Wah… Jagoanku udah bangun neh… Tempat tidurnya sudah rapi belum ya? Lekas mandi ya… Kalau mandi yang bersih ya… “

2. Menjawab pertanyaan anak dengan penjelasan
Hal ini juga sangat penting. Layaknya seorang anak meminta sepotong roti tawar pada ayahnya, tapi sang ayah memberikan sepotong roti tawar plus dua potong roti isi sosis dan keju. Misalnya, pada saat kita berjalan di kebun binatang dengan si kecil, dan dia bertanya”Ma… Itu apa?” Jangan Cuma menjawab,”Gajah”, tapi alangkah lebih baik bila kita menjawab,”Itu adalah gajah. Gajah suka makan kelapa lho… . Dia punya gading yang indah dan kuat. Lihat tuh… Belalainya panjang dan punya gading yang indah.”

3. Menjadi pendengar yang baik
Menjadi pendengar yang baik adalah hal yang penting juga, karena hal ini tidak hanya bermanfaat agar anak bisa lebih terbuka dengan kita kelak pada saat dia menginjak tahap usia yang lebih dewasa, namun juga melatih anak untuk bisa bebas mengekspresikan diri. Saat sang buah hati mulai “cerewet”, alangkah lebih baik bagi kita untuk menjadi pendengar yang baik, dan berbicara seperlunya saja. Kita jangan bersikap cuek, melainkan tetap berusaha memperhatikan atau mendengarkannya, meskipun kita merasa apa yang dikatakannya “gak penting banget…."

4. Mendongengkan dan bernyanyi buat anak
Aktivitas mendongeng dan benyanyi memang kaya akan berjuta manfaat. Tidak hanya memberikan hiburan, namun juga menambah wawasan anak, melatih kecerdasa, namun juga memperkaya kosa kata baru bagi anak. Bila anak kaya akan kosa kata, maka akan lebih mudah untuk menyusunnya menjadi sebuah kalimat.

5. Jangan memarahi Saaat Anak mengatakan hal yang “Tidak Sopan”.
“Tidak sopan” di sini bisa berupa kata-kata kotor, kata-kata yang kasar, atau kata-kata lain yang tidak pantas diucapkan oleh seorang anak. Bila anak mengatakan hal yang kurang pantas, sebaiknya kita jangan memarahi, apalagi dengan membentaknya. Tapi berusahalah untuk tetap tenang, dengan mengatakan bahwa kata-kata itu tidak sopan dan meminta tidak mengulangi kata-kata tersebut kembali. Bila perlu kita menanyakan dari mana si kecil mendapatkan kata-kata itu, bila kata-kata itu didapatkan dari sebuah acara di TV, maka sebaiknya kita ikut mendampingi saat anak menonton TV.

6. Banyak Bertanya
Untuk hal-hal yang buah hati kita tidak tahu, mungkin kita akan lebih banyak menjelaskan, namun untuk hal-hal yang buah hati kita sudah banyak tahu, akan lebih baik bila kita banyak bertanya. Misalnya setelah sang anak nonton suatu acara TV. Cobalah bertanya,”Bagus tidak ceritanya? Siapa aja pemainnya? Gimana akhir ceritanya”. Hal ini akan sangat bermanfaat agar anak bisa lebih terbuka pada kita di kemudian hari dan melatih kemampuan anak untuk mendeskripsikan sesuatu.

7. Media permainan
Media permainan biasanya diperlukan agar sang buah hati bisa belajar sambil bermain. Media permainan sangat beragam. Bisa berupa buku cerita bergambar, kartu bergambar, mainan miniature, dan lain-lain. Sebagai contoh untuk buku bergambar. Marilah kita damping sang buah hati saat membaca buku bergambar tersebut, sehingga kita bisa menjelaskan semua gambar yang ada di dalam buku tersebut.

8. Tidak banyak melarang
Bila kita ingin sang buah hati lebih pintar berekspresi, sebaiknya kita tidak melarangnya. Larangan-larangan yang biasa kita lakukan sebaiknya diubah menjadi sebuah penjelasan yang memiliki makna sebab akibat. Misalnya, bila si kecil bermain gunting. Kita berikan penjelasan pada si kecil, “Nak… Gunting itu buat memotong kertas atau kain. Bukan buat mainan. Kalau buat mainan berbahaya. Nanti jarimu bisa terluka.” Seorang anak adalah pribadi yang selalu ingin tahu. Jangan sampai dari hal-hal yang sepele tersebut, si kecil menjadi kurang bisa terbuka dengan kita, karena kita terlalu banyak melarang tanpa si kecil tahu sebabnya. Jangan lupa untuk mengatakan hal itu dengan halus dan penuh kasih sayang.

9. Mengikutkan lomba-lomba dan aktivitas sosial lainnya
Aktivitas sosial dan lomba sangat penting buat anak, yaitu agar si kecil semakin mengenal “dunia luar”. Semakin banyak aktivitas yang diikuti, maka anak akan semakin mendapatkan banyak teman dan pengetahuan baru atau semakin banya teman yang di dapat, semakin banyak pula pengetahuan baru yang didapatkan.Hal ini juga untuk membiasakan anak agar terbiasa tampil di depan umum atau orang-orang baru.

Nah... Demikian tips-tips dari saya. Semoga bermanfaat. Bila buah hati kita sudah pandai berbicara dan berekspresi, kita sendirilah yang akan merasakan manfaatnya.

Monday, March 5, 2012

Si Kecil Suka Menyanyi Lagu Dewasa


Quote:
Minimnya jumlah lagu anak-anak yang terjadi saat ini menyebabkan anak menjadi lebih gemar menyanyikan lagu dewasa yang bertema cinta. Memang tak bisa dipungkiri bahwa saat ini, lebih banyak lagu bertema dewasa yang seringkali kita dengar, baik melalui radio maupun televisi.


Memang harus diakui, saat ini ada kekosongan lagu anak-anak. Menurut Dra Tiwin Herman MPsi dari PT Psiko Utama, lagu anak-anak adalah lagu yang lirik dan musiknya menggambarkan dunia anak, dekat dengan hal-hal yang menggembirakan, permainan, serta hal-hal bersifat mendidik. Melalui lagu, anak diajak untuk belajar, dari mengenali organ tubuh, huruf, angka, hingga kekayaan alam serta budi pekerti. Hal ini selaras dengan perkembangan kognitif dan psikologis anak.
Quote:
Namun, tidak dapat dimungkiri, saat ini intensitas penyiaran lagu-lagu cinta-cintaan (lagu dewasa) memang tinggi. Setiap saat lagu-lagu itu bisa didengar dari berbagai media. Saya sering melihat orangtua yang bangga ketika anaknya yang masih berusia dua-tiga tahun bisa menyanyi menirukan lagu-lagu yang sedang populer milik band yang sering ada di televisi.

Di sisi lain anak-anak belajar banyak hal dari proses imitasi atau meniru apa yang mereka lihat atau dengar. Akhirnya, tidak mengherankan jika kemudian anak-anak lebih sering menyanyikan lagu-lagu orang dewasa.
Quote:
Lagu-lagu dewasa pada umumnya bercerita tentang cinta, kecemburuan, patah hati, dan sejenisnya, yang konsepnya sendiri sering kali belum dipahami anak. Ada semacam “percepatan dunia dewasa” yang dibiarkan (bahkan mungkin dipaksakan) secara halus kepada anak-anak bila mereka selalu menyanyikan lagu orang dewasa. Tentu ini akan memengaruhi perkembangan anak.

Bahasa awam yang mengatakan “matang sebelum masanya” bisa menjadi analogi untuk menggambarkan kondisi anak terpaksa tahu walau sebetulnya ia belum berhak tahu. Jika informasi ini (yang masuk ke kognitifnya sebagai pengetahuan) cukup banyak untuk masanya, tetapi emosinya belum matang, bisa dibayangkan apa yang terjadi.

Demikian juga dengan lagu-lagu yang dinyanyikannya, mengenai patah hati, kecemburuan, atau yang sekarang sedang ngetren, perselingkuhan. Pengasuh atau orang di rumah yang dekat dengan anak bisa saja memberikan penjelasan, tetapi belum tentu anak paham. Bisa-bisa anak malah memahami perselingkuhan sebagai hal biasa. Ini tentu akan memengaruhi norma-norma yang akan dianutnya. Ini baru dari aspek perkembangan moral. Padahal, masih banyak aspek lain.
Quote:
Untuk mengajari buah hati menyanyikan lagu anak di tengah gempuran lagu-lagu dewasa, orangtua dituntut berperan aktif. Kita bertugas mengakrabkan anak-anak dengan dunianya, melalui lagu-lagu yang setaraf dengan perkembangan agar dapat memaksimalkan tahap perkembangannya. Banyak hal bisa dikerjakan, dari memberi kesempatan bagi lagu anak-anak untuk diperdengarkan bersama atau memberikan motivasi kepada anak agar bangga menyanyikan lagunya.


Cara paling efektif untuk memperkenalkan lagu anak adalah mengaitkan pada situasi atau kondisi yang sedang dirasakan. Ketika anak bertanya tentang cicak yang sering berkeliaran di rumah, misalnya, perkenalkan lagu Cicak-cicak di Dinding. Sejak zaman dahulu sebetulnya kita sudah memiliki banyak sekali lagu anak-anak. Demikian pula dengan lagu daerah.
Quote:
Saya rasa tidak pada tempatnya untuk selalu menyalahkan media. Saya cenderung mengatakan proses pengenalan anak pada lagu-lagu anak banyak dipengaruhi lingkungan. Diperlukan kesediaan orangtua untuk mengajari langsung anak dan meminimalkan informasi yang kurang sesuai.

Quote:
Jadi, bagaimana solusinya?
Berikut ini sejumlah solusi mengatasi anak yang mulai "membandel":


Code:
1. ajari anak anda cinta lagu-lagu daerah dan wajib nasional 
ketimbang lagu-lagu orang dewasa yang menjurus ke "percintaan"
2. berikan tontonan yang baik bagi anak anda.
3. Jika anda dan anak sedang pergi ke toko buku, 
perlihatkan anak anda buku tentang lagu-lagu wajib, daerah, dan anak-anak.

Saturday, March 3, 2012

Bila Anak Terlambat Bicara

banyak orang tua yang khawatir jika anaknya belum lancar bicara padahal dilihat dari segi usia sepertinya sudah lewat dan jika dibandingkan dengan anak-anak tetangganya, teman-temannya, saudara-saudaranya kok ketinggalan jauh.

Gangguan kemampuan bicara atau keterlambatan bicara dan berbahasa ini haruslah dideteksi dan ditangani sejak dini dan dengan metode yang tepat. Bagaimana pun juga, bicara dan bahasa merupakan media utama seseorang untuk mengekspresikan emosi, pikiran, pendapat dan keinginannya.



Quote:
bayangkan saja, jika ia mengalami masalah dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti oleh orang lain atau orang tuanya, guru dan teman-temannya, maka bisa membuat ia frustrasi. Mungkin pula ia akan merasa frustrasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan atau pun membuatnya jadi bahan tertawaan.


Jika tidak ada yang bisa mengerti apa sih yang jadi keinginannya atau apa yang dimaksudkannya, maka tidak heran jika lama kelamaan ia akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti.

Padahal, belajar melalui proses interaksi adalah proses penting dalam menjadikan seorang manusia bertumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya.
Quote:
Quote:
Bila Anak Terlambat Bicara
gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya.

Pada umumnya mereka mempunyai perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian, problem ini terjadi atau dialami 5 sampai 10% anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan. Pada kasus-kasus tertentu, hambatan berbicara dan berbahasa terlihat dari adanya hambatan dalam menulis.


Quote:
adapun penyebab dari keterlambatan bicara ini disebabkan oleh beragam faktor, seperti:
  1. hambatan pendengaran

    pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga

  2. hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor

    ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.


  3. masalah keturunan

    masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.

  4. masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua

    masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun.

    Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan "memasukkan" segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.

  5. faktor televisi

    anak batita yang banyak nonton tv cenderung akan menjadi pendengar pasif, hanya menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang).


    Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.

    Quote:
Quote:
Quote:
evaluasi pemeriksaan
jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, untuk menghindari terjadinya salah diagnosa dan penanganan. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek:
  1. fisiologis dan neurologis

    dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran-bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Tidak hanya itu, pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganan yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan.

  2. psikologis

    pemeriksaan secara psikologis juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial-emosional anak. Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus ditangani oleh ahli atau psikolog yang berkompeten dan berpengalaman dalam menangani anak dengan problem keterlambatan bicara.

    Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahlinya dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.

    Sebenarnya hal ini masih bisa didiagnosa dan dilakukan penanganan yang tepat supaya kemampuan tersebut akhirnya berkembang seperti anak-anak lain seusianya. Jika sejak awal hambatan bicara ini sudah didiagnosa secara tepat, dan jika pihak keluarga mempunyai kepedulian yang tinggi untuk memberikan dukungan bagi program pemulihan si anak, maka akan besar kemungkinan bagi si anak untuk kembali memiliki kemampuan yang normal. Meski pada proses awal akan terkesan lamban, namun kemungkinan besar masalah keterlambatan bicara akan teratasi ketika anak mulai memasuki sekolah dasar.