Laman

Thursday, March 28, 2013

Beginilah cara nuklir membunuh anda


Korban radiasi nuklir Chernobyl

Sebelumnya mohon di dan komen yang baik ya gan

Quote:
Seandainya penjahat meledakkan senjata nuklir, apa yang akan terjadi pada manusia? Kota mati Chernobyl, Ukraina Utara bisa menjadi gambaran keganasan ancaman nuklir.

Dosis besar radiasi nuklir dalam jangka pendek bisa menyebabkan Sindrom Radiasi Akut (ARS) atau keracunan radiasi.

Keganasan gejala ARS ini tergantung tingkat paparan yang mengenai Anda. Cara mengukur dosis radiasi ini bisa menggunakan satuan unit Grays (Gy). Rata-rata paparan radiasi selama beberapa detik dari pemeriksaan dengan sinar X yakni 0,0014 Gy. Ini termasuk dosis rendah yang disarankan.

Apabila Anda terkena dosis rendah, radiasi kisaran 0,35 Gy, Anda akan terserang flu. Efek samping lain bisa mengalami pusing, mual, muntah, lemas, dan demam.

Jika tubuh terkena dosis yang lebih tinggi, sekitar 1 hingga 4 Gy, sel darah mulai mati. Sistem imunitas tubuh menurun akibat kekurangan sel darah putih, kekurangan trombosit membuat pendarahan tidak terkontrol, dan anemia akibat menurunnya sel darah merah menjadi ancaman selanjutnya. Tapi, kondisi seseorang bisa dipulihkan pada tahap ini. Transfusi darah dan obat antibiotik dapat menjadi solusi.

Jika menerima paparan radiasi lebih dari 2 Gy, Anda akan mengalami luka terbakar yang aneh pada kulit. Kondisi ini disebut sebagai radiodermatitis akut. Dampaknya termasuk bercak merah, kulit mengelupas, dan bisa juga melepuh. Kondisi buruk ini diperkirakan muncul dalam waktu 24 jam.

Dosis 4 hingga 8 Gy bisa berakibat fatal. Tapi, jalan menuju kematian masih bervariasi tergantung tingkat paparan. Pasien pada level ini akan mengalami muntah, diare, pening, dan demam. Tanpa perawatan, seseorang hanya tinggal menunggu maut dalam beberapa minggu setelah terkena paparan.

Kondisi fatal ini pernah terjadi. Ahli fisika, Louis Slotin, meninggal karena ARS ketika melakukan penelitian Proyek Manhattan pada 1946. Slotin terkena paparan radiasi dengan dosis yang diperkirakan 10 Gy dari sinar gamma dan sinar X. Dengan dosis sebesar itu, dia tidak bisa bertahan hidup. Bahkan, pengobatan modern seperti transplantasi sumsum tulang belakang juga tidak bisa mengubah nasibnya.

Pasien yang terkena radiasi antara 8 hingga 30 Gy akan mengalami mual. Dalam waktu satu jam, pasien akan mengalami diare parah. Mereka akan meninggal dalam dua hari hingga dua minggu.

Menyerap dosis lebih besar dari 30 Gy menyebabkan kerusakan sistem saraf. Dalam hitungan menit, pasien akan menderita muntaber parah, pening, pusing, hingga pingsan. Kejang dan tremor sudah menjadi ancaman umum. Pasien juga akan kehilangan kontrol gerak otot. Hanya butuh 48 jam, radiasi nuklir langsung mencabut nyawa korbannya.

Model perkiraan tingkat bahaya paparan radiasi jangka panjang masih kontroversial. Menurut Gizmodo, model yang paling diterima secara luas menunjukkan pengaruh radiasi yang menyerang sebagian besar orang. Radiasi tingkat rendah justru menjadi sumber radiasi paling berbahaya. Kendati ARS memberi gambaran menakutkan, terbunuh perlahan ini yang lebih perlu Anda khawatirkan. (umi)

Kisah Cinta Tragis Putri Raja di Pulau Kemaro

Palembang - Di balik keindahan Pulau Kemaro, Palembang, Sumsel, terselip kisah cinta tragis Putri Raja Palembang, Siti Fatimah. Di pulau ini pun ada makam yang konon menjadi tempat pembaringan terakhir sang putri. Penasaran?

Ada sebuah destinasi di tengah Delta Sungai Musi yang mencuri perhatian wisatawan. Pulau Kamaro namanya. Lokai pulau ini tak begitu jauh dari Kuto Gawang. Nama Kemaro diambil karena pulau ini tidak pernah bajir, meski Sungai Musi meluap.



Saat menapakkan kaki di pulau ini, Anda akan merasakan nuansa Tionghoa yang kental. Ini bisa dilihat dari adanya pagoda dan kelenteng yang menghiasi pulau tersebut.






Warna kelenteng yang merah menantang di antara pepohonan hijau, membuatnya mudah ditemukan. Namanya Kelenteng Hok Tjing Rio. Sedangkan pagoda yang baru dibangun pada 2006 ini, tingginya mencapai 9 lantai. Sehingga, membuatnya terlihat menjulang di tengah pulau.



Selain kelenteng dan pagoda, ada legenda tragis percintaan. Dilansir dari situs resmi Provinsi Sumatera Selatan, Kamis (7/2/2013), legenda ini menceritakan tentang kisah cinta antara Putri Raja Palembang, Siti Fatimah dengan saudagar kaya sekaligus pangeran asal negeri China, Tan Bun Ann.

Keduanya saling jatuh cinta dan sepakat untuk menikah. Siti Fatimah mengajukan syarat pada Tan Bun Ann untuk menyediakan 9 guci berisi emas. Tan Bun Ann kemudian mengirim seorang pengawalnya pulang ke Tiongkok untuk meminta emas dan restu pada orang tuanya. Tentu saja permintaan ini disetujui orang tua Tan Bun Ann.

Untuk menjaga emas tersebut dari bajak laut, guci berisi emas tersebut ditutupi dengan asinan sawi. Sesampainya di dekat Pulau Kemaro, Tan Bun Ann terdorong untuk memeriksa isi guci. Melihat isinya hanya asinan sawi, ia pun kesal dan membuang guci-guci itu ke sungai. Namun, guci terakhir yang ia lempar tidak sengaja pecah. Di situlah ia melihat keping-keping emas.

Tan Bun Ann pun terkejut melihat hal tersebut. Dia pun sangat menyesal karena terlambat menyadari hal itu. Diperintahkan pengawalnya untuk mengambil kembali guci-guci yang sudah tenggelam di Sungai Musi. Namun, pengawal justru ikut tenggelam. Akhirnya, Tan Bun Ann memutuskan untuk terjun ke sungai dan mencari guci-guci tersebut. Naas, dirinya juga tenggelam di Sungai Musi.

Mendengar kejadian yang menimpa calon suaminya, Siti Fatimah pun berinisiatif terjun dengan niat membantu. Dirinya berkata, "Jika ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini, maka di situlah kuburan saya." Ternyata Siti Fatimah dan Tan Bun Ann tidak pernah muncul ke permukaan.

Tak lama, muncul dua gundukan tanah yang dipercaya sebagai makam Siti Fatimah dan Tan Bun Ann. Untuk mengenang mereka, dibuatlah makam keduanya di Pulau Kemaro.

Tak ketinggalan, di daerah ini juga ada pohon cinta. Pohon cinta ini adalah sebuah beringin yang sudah cukup tua dengan ranting yang sangat rimbun. Konon, bila seseorang menuliskan nama dirinya dan pasangannya di pohon itu, maka jalinan cinta mereka akan semakin langgeng.



Untuk sampai ke pulau ini, traveler harus menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit. Perjalanan di mulai dari dermaga kecil yang berada di depan Benteng Kuto Besak. Pulau ini akan ramai wisatawan saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh, khususnya bagi traveler keturunan Tionghoa.

Menguak Misteri Kematian Tan Malaka


JAKARTA - Keberadaan makam dan penyebab kematian Sutan Ibrahim atau Datuk Tan Malaka, menjadi polemik selama 30 tahun. Tan Malaka hilang seperti ditelan bumi dan tak tentu rimbanya sejak Februari 1949 silam.

Namun, misteri ini segera terkuak menyusul pembongkaran makam yang diduga berisi jasad Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri, Jawa Timur oleh tim forensik RSCM, Sabtu 12 September kemarin, sesuai petunjuk seorang sejarawan Belanda Harry A Poeze.

Harry, menyimpulkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Eksekusi ini diawali pada 1949, saat markas Tan Malaka di Pace, Jawa Timur disergap oleh Tentara Republik Indonesia (sekarang TNI). Pasukan ini urung menangkap pria yang tidak meninggalkan keturunan ini, karena ditarik mundur untuk menghalau Belanda yang melakukan penyerangan dari utara. Tan Malaka dan 60 orang pengikutnya dibebaskan.

Tokoh kontroversial ini bersama pengikutnya melarikan diri ke selatan Jawa Timur. Namun dalam perjalanan, mereka ditembaki oleh sekelompok bersenjata. Tan Malaka selanjutnya membagi rombongan menjadi empat kelompok. Dirinya dan empat orang pengikutnya pergi ke kawasan Tulung Agung, mengharapkan masih ada batalyon tentara di sana yang masih bersimpati pada mereka. Setelah dua hari berjalan, mereka tiba-tiba disergap di suatu desa kecil bernama Selo Panggung. Tan Malaka pun di tembak mati di tempat ini.

Versi Kematian Tan Malaka

Mengungkap misteri sebab kematian pahlawan nasional Tan Malaka, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat melakukan penelitian, sejarawan Belanda Harry A Poeze harus dihadapkan dengan berbagai versi cerita, sedikitnya ada lima versi yang mengungkap kematian Che Guevara-nya Indonesia ini.

"Banyak sekali, bahkan ada tukang bengkel di Surabaya yang mengaku-ngaku sebagai penembak Tan Malaka," jelas Penulis buku "Filosofi Negara Menurut Tan Malaka", Hasan Nasbi.

Namun, dari dari berbagai versi itu, dalam bukunya Harry Poeze menyebut Tan Malaka dibunuh dengan ditembak. Ini adalah versi Sukarna, seorang pengawal Tan�Malaka yang berhasil kabur dari tahanan. Dia sempat menceritakan kembali kepada Jamalludin Tamim, salah satu pengikut Tan Malaka sewaktu di Bangkok.

Sempat pula beredar beredar kabar, Tan Malaka ditembak dan dibuang ke kali Brantas, namun setelah ditelusuri oleh Harry Poeze, ternyata setelah ditembak, Tan Malaka kemudian dikuburkan di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen Kediri, Jawa Timur.

Upaya penggalian makam Tan Malaka pun sejatinya sudah dimulai sejak Peringatan 112 tahun kelahirannya serta 60 tahun hilangnya Tan Malaka awal tahun ini. Rencananya, keponakan Tan Malaka, Zulfikar Kamarudin, yang akan memimpin langsung tim untuk membongkar makam yang ditemukan oleh Harry A Poeze ini pada 12 Maret lalu, namun karena terkendala proses administrasi, proses penggalian ini gagal.

Sekadar diketahui, Tan Malaka merupakan salah satu pejuang revolusioner beraliran kiri nasionalis. Dia lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, pada 2 Juni 1897. Selama hidupnya dia pernah aktif di Partai Komunis Indonesia dan menjabat wakil Komintern di Asia yang berkedudukan di Canton. Pendiri partai Murba ini kemudian ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan Nasional berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Sukarno pada 28 Maret 1963. Sayang, pada Era pemerintahan Suharto, nama Tan Malaka terkesan dilupakan atau bahkan sengaja dibedakan dengan pahlawan nasional lainnya.

Inilah Gudang Senjata di Bogor



Siapa sangka, Bogor ternyata punya 'gudang senjata'. Mulai dari samurai, bambu runcing, pistol, senapan laras panjang, hingga meriam, dapat Anda lihat dari dekat. Tidak percaya? Datanglah ke Museum Perjuangan dan buktikan sendiri.

Tidak jauh dari Jakarta, Bogor di Jawa Barat adalah eskapisme traveler dari ibukota dan wilayah sekitarnya. Cuaca yang sejuk menyambut kedatangan Anda setibanya di Bogor. detikTravel berkesempatan mengunjungi Kota Hujan ini beberapa waktu lalu.

Untuk urusan traveling, Bogor punya banyak destinasi yang menarik. Salah satunya adalah Museum Perjuangan di Jl Merdeka nomor 56, dekat dengan Pusat Grosir Bogor (PGB) dan Terminal Merdeka. Di museum, Anda akan melihat berbagai jenis koleksi senjata seperti bambu runcing, samurai, hingga meriam.

"Museum ini menyimpan koleksi revolusi fisik yang berlangsung pada tahun 1945-1940. Ada senjata yang digunakan oleh laskar rakyat, seperti pedang, bambu, dan ada juga koleksi lain seperti meriam," kata Mahrup, pemandu museum.



Mahrup pun membeberkan sejarah dari Museum Perjuangan ini. Dia mengungkapkan, museum ini berbeda dari museum lainnya karena merupakan gedung tua. "Dulunya gedung ini digunakan oleh Belanda sebagai gudang rempah-rempah, lalu tahun 1944 diambil Jepang. Kemudian tahun 1945 dijadikan sebagai balai rakyat untuk ketahanan kota dan kabupaten, lalu sempat dikosongkan selama dua tahun," ungkapnya.



"Setelah itu, museum ini telah ada sejak tanggal 10 November 1957 dan diresmikan tanggal 15 November 1958," tambah Mahrup.

Harga tiket masuk museum dengan dua lantai ini cukup Rp 3.000 saja dan buka setiap hari. Memasuki bagian depan museum, Anda akan disambut oleh senapan bidik laras panjang. Di kanan dan kirinya, juga ada meriam dan koleksi pistol dengan beragam jenis. Asyiknya, ada penjelasan yang lengkap di senjata-senjata tersebut.

"Ini museum tertua dan paling komplit di Indonesia versi museum juang. Serta, menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Bogor dalam mengusir para penjajah," ujar Mahrup menjelaskan.

Tidak hanya senjata saja, pengetahuan tentang sejarah perlawanan Indonesia terhadap Belanda pun ada di sini. Anda bisa mempelajari sejarah dari manuskrip tentang perjuangan rakyat Indonesia. Selain itu, ada juga mata uang Indonesia di zaman dulu, foto-foto para pahlawan dan pakaian-pakaian tentara Indonesia.

"Museum ini sering didatangi wisatawan dari Jakarta dan juga anak-anak sekolah. Di lantai atas, kita juga sering memutar film dokumenter," kata Mahrup yang menggenakan kemeja biru.

Tsansa, Kepala Musuh yang Dibuat Sekecil Bola

Langsung aja deh gan ane cuma mau share suatu yang harus agan tau.
Tahu jenglot, kan? Figur manusia yang hanya seukuran 10-12 cm, konon fosil orang berilmu tinggi yang menyusut dan memiliki kekuatan magis. Di Amerika Selatan juga ada legenda serupa. Namun, hanya bagian kepala yang dibuat menyusut dan bila jenglot belum bisa dibuktikan secara ilmiah, sebaliknya kepala menyusut di Amerika ada proses yang dapat dijelaskan.


Kepala menyusut, atau shrunked head awalnya menjadi mitos yang sangat menakutkan di kawasan Amerika. Dulu, para penjelajah di kawasan Barat Amerika ngeri bila harus bertemu dengan suku Indian karena dua hal: kepala yang dikuliti (scalp) dan kepala yang dibuat kecil hingga seukuran bola tenis atau lebih kecil lagi.

Walau tidak semua suku Indian mempraktekan aksi brutal tersebut, biasanya legenda soal shrunked head menyebar di daerah Amerika Selatan, tepatnya di hutan hujan Amazon. Di tempat ini terdapat suku Shuar, Achuar, Huambisa, dan Aguaruna yang suka memburu kepala manusia untuk disusutkan. Mereka menyebutnya Tsansa (tzantza).


Nah, dalam edisi terbaru jurnal Archaeological and Anthropoligcal Sciences, para peneliti telah menganalisa bukti DNA yang mengungkapkan kisah legenda suku pemburu kepala di Amazon memang nyata.

Suku-suku tersebut membuat kepala jadi mengecil tidak dengan cara magis, tetapi dengan menghilangkan tengkorak dari kepala (setelah memenggal kepala musuh). Sayatan dibuat di bagian belakang leher dan semua kulit dan daging akan dihapus dari tempurung kepala. Biji merah ditempatkan di bawah kelopak mata dan kelopak mata yang dijahit tertutup.

Lalu bola kayu akan ditempatkan sebagai pengganti tengkorak untuk membentuk kepala ‘baru’ yang lebih kecil. Daging tersebut kemudian direbus dalam air yang telah diisi dengan sejumlah jamu yang mengandung tanin.

“Setelah dipenggal, kepala musuh dengan teliti diciutkan melalui proses perebusan dan pemanasan dalam perayaan spiritual. Ini bertujuan agar roh jahat musuh terkunci. Proses ini juga untuk melindungi pembunuhnya dari balas dendam roh musuh,” papar Gila Kahila Bar-Gal, penulis penelitian kepada Discovery News.


Konon, praktek tsansa ini memiliki makna keagamaan. Menyusutkan kepala musuh diyakini bisa mengambil semangat (spirit) si korban dan memaksanya melayani sang pemilik kepala. Hal ini juga untuk mencegah jiwa korban membalas kematiannya.

Penguasaan orang kulit putih di Amerika sempat menambah buruk perlakuan biadab ini. Orang kulit putih ternyata gemar mengoleksi tsansa, sehingga banyak praktek jual-belitsansa. Dilaporkan, di tahun 1930-an harga sebuah tsansa hanya dibandrol 25 dollar saja.

Meningkatnya permintaan pasar juga membuat beberapa orang di Panama dan Kolombia membuat tsansa palsu. Mereka menggunakan mayat dari rumah duka atau kepala monyet. Seorang peneliti, Kate Duncan sempat menulis, “Diperkirakan bahwa sekitar 80 persen daritsantsa di tangan swasta dan museum yang palsu.”